Tidak Berhasil, Intinya Pernah Mencoba

Ketika orang lain bahagia dan merayakan kesuksesan karena berhasil mencapai apa yang mereka impikan, barangkali aku adalah salah satu orang yang justru bangga karena pernah mencoba. Bagiku, mencoba adalah keberanian dan itikad yang jauh lebih penting daripada sebatas hasil akhir. Jika kita sudah berani mencoba, apalagi terus-menerus mencoba, maka kita juga harus siap bertemu dengan berbagai kemungkinan untuk gagal.

Dahulu, setiap kegagalan yang aku alami, aku kecewa, hilang harapan, frustrasi, bahkan bersedih hati. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku belajar berdamai dengan kegagalan. Sampai sejauh ini, setiap kali gagal, aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan, yaitu bersyukur dan tetap bangga atas setiap jejak kegagalan yang pernah aku torehkan dalam perjalanan hidup ini. Kegagalan ini bukan berarti aku tidak bisa atau tidak mampu, tetapi sebuah bukti bahwa aku pernah memiliki banyak keberanian untuk melangkah. Kegagalan adalah tanda bahwa aku tidak memilih diam dan menyerah sebelum memulai

Aku tidak akan muluk-muluk berbicara tentang seberapa banyak manusia selalu gagal. Kenapa harus gagal? Apa yang menyebabkan gagal? Apakah kegagalan menjadi momok terbesar dalam hidup kita? Pertanyaan-pertanyaan ini seyogyanya kita sendirilah yang akan menjawabnya, karena kita sendiri yang mengalaminya. Tetapi yang aku goreskan di kertas adalah ini bagaimana caraku berperspektif dan merespons kegagalan. Walau aku termasuk orang yang memiliki banyak daftar kegagalan yang panjang, namun aku tidak menyimpannya untuk disesali atau ditangisi. Aku juga tidak menceritakan tiap kisah sedih di balik setiap kegagalan kepada orang lain, apalagi menjadikan persoalan hidupku menjadi beban orang lain. Semua yang aku lalui mengingatkanku bahwa aku pernah melewati berbagai musim kehidupan, baik ketika gagal maupun berhasil. Sehingga aku tidak terlalu larut dalam setiap kegagalan dan juga tidak terlena oleh keberhasilan. Karena aku sudah terbiasa ketika gagal dan ketika berhasil.

Mengapa aku bangga dengan catatan yang mungkin dianggap orang lain sebagai prestasi terburuk dalam hidupku? Karena aku belajar suatu hal yang tidak semua orang pelajari, yaitu bersyukur ketika gagal. Sang Khalik tentu tahu apa yang kita alami, tetapi tidak membiarkan kita jatuh, mungkin semesta juga mau kita gagal supaya kita belajar bersyukur dan menerima takdir disaat gagal, karena kebanyakan orang hanya selalu bersyukur di saat berhasil, dan lupa bersyukur di saat mereka gagal. Mungkin kedengarannya aneh, ketika kebanyakan orang bersyukur ketika berhasil, tetapi aku hanya belajar bersyukur justru ketika mengalami kegagalan. Aku menjadikan setiap kegagalan sebagai sumber semangat, kekuatan dan rasa syukur.

Dari sekian banyak kegagalan yang aku alami, ketika aku gagal dalam pendidikan, pekerjaan, percintaan. Aku akan menceritakan suatu kisah yang mungkin pantas diceritakan untuk kamu. Aku pernah mengikuti seleksi beasiswa sebanyak lima kali, kelima-limanya berakhir dengan kegagalan. Pada kegagalan pertama, sebagai manusia, tentunya aku sempat merasa kecewa dan sedih. Namun, sejak seleksi kedua dan seterusnya, aku mulai mengubah cara pandangku. Aku memilih bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada Sang Khalik atas apa pun hasil yang aku terima. Bahkan, aku pernah membawa persembahan ke gereja sebagai ungkapan syukur atas kegagalan tersebut. Bahwasanya, jika Sang Khalik belum membuka jalan itu berkali-kali, berarti Ia sedang mempersiapkan jalan-jalan yang lain terbaik.

Berhasil dan gagal hanyalah dua keadaan yang datang bertala-tala. Tidak ada keberhasilan yang berlangsung selamanya, sebagaimana tidak ada kegagalan yang bersifat abadi. Kehidupan terus bergerak mengikuti waktunya sendiri. Hal yang menentukan kualitas seseorang bukanlah seberapa kita berhasil, tetapi seberapa kuat kita tetap melangkah setelah mengalami kegagalan. Manusia tidak selalu bisa mengendalikan hasil, tetapi selalu memiliki kebebasan untuk memilih sikap. Kita bisa memilih menyerah karena kegagalan, atau memilih bangkit dan kembali mencoba. Pilihan kedua inilah yang melahirkan ketangguhan, kedewasaan, dan kebijakan.

Prinsip hidup yang selalu aku pegang teguh adalah “Mencoba lebih baik dari pada tidak sama sekali”. Prinsip ini menjadi pilar utama yang terus menguatkanku. Aku tidak terlalu mempersoalkan apakah pada akhirnya aku akan berhasil atau gagal, jatuh atau bangkit, optimis atau pesimis, berlari atau berhenti. Yang paling terpenting bagiku adalah terus mencoba. Soal berhasil atau gagal adalah urusan berikutnya. Karena aku selalu belajar dari hujan. Berkali-kali jatuh ke bumi, tanpa sedikitpun mengeluh kepada takdirnya. Hujan tidak pernah bertanya mengapa ia harus jatuh, hujan hanya menjalankan setiap takdirnya dengan setia. Ketika kita memilih menjalani setiap musim hidup ini dengan tulus dan ikhlas. Apa pun yang menjadi bagian dari takdir hidup kita, selayaknya kita terima sebagai sebuah proses yang harus kita lewati.

Kegagalan sesungguhnya bukanlah akhir dari suatu perjalanan, tetapi bagian dari proses yang membentuk karakter dan kepribadian seseorang. Dari kegagalan, kita harus belajar tentang kerendahan hati, kesabaran, ketekunan, keikhlasan, dan yang tak kalah penting adalah mengucap syukur. Proses dan pengalaman ini memberikan pelajaran yang jauh lebih berharga dan sangat berharga daripada keberhasilan yang datang dengan muda. "Tidak Berhasil" bukan berarti kita akan membenarkan kegagalan, melainkan sebuah pengingat bahwa keberanian untuk mencoba adalah kemenangan pertama yang sering kali tidak terlihat. Selama kita masih berani melangkah, memiliki harapan, dan mau belajar dari setiap kegagalan, maka kita bukanlah pejuang hidup yang benar-benar belum kalah. Sebab, dalam perjalanan hidup, yang paling disesali bukanlah kegagalan, melainkan kesempatan yang dibiarkan berlalu tanpa pernah dicoba.

Apa pun yang terjadi dalam hidup kita berhasil atau gagal, harus bangga dan bersyukur atas segalanya. Tidak selamanya kita akan berhasil, dan tidak selamanya pula kita akan gagal. Tidak selamanya kita hidup dalam kesusahan, sebagaimana tidak selamanya kita hidup dalam kebahagiaan. Tidak selamanya kita berkecukupan, dan tidak selamanya pula kita berada dalam kekurangan. Tidak ada satupun keadaan yang berlangsung selamanya. Semua tergantung pada waktu, kapan sesuatunya akan datang dan kapan sesuatunya akan pergi. Tugas kita bukan mengendalikan segala sesuatu yang berada di luar kuasa dan kendali kita, tetapi siap menerima tiap dinamika dan realita yang senantiasa hadir sebagai bagian dari perjalanan hidup dan takdir yang harus dijalani.

Hidup ini bukan tentang memaksakan semua hal bisa berjalan sesuai keinginan kita, tetapi tentang siap dan sedia menerima setiap musim kehidupan dengan hati yang lapang. Sebab, waktu akan selalu bergerak, keadaan akan terus berubah, dan tak ada satu pun perihal yang bersifat abadi. Yang bisa kita lakukan hanyalah tetap melangkah, bersyukur dalam setiap keadaan, serta percaya bahwa setiap peristiwa memiliki makna dan waktunya sendiri dalam membentuk siapa diri kita. Kita tidak berhasil bukan berarti tidak berharga. Intinya, kita pernah mencoba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Agama Tidak Relevan Bagi Manusia

Luka Tak Lahir dari Huruf

Menulis Untuk Pertama Kali