Menulis Untuk Pertama Kali
Aku sebenarnya tidak terlalu menyukai aktivitas membaca buku secara
berlebihan, atau juga tidak terlalu gemar menulis dalam jumlah banyak. Yang
lebih sering aku lakukan justru membaca sambil menulis, dan menulis sambil
membaca. Dari proses itulah aku menemukan banyak pelajaran tentang metode membaca
dan menulis, terutama melalui cara belajar autodidak dan imitasi. Bukan karena
aku sepenuhnya yakin bahwa seluruh proses itu ada di dalam buku ataupun teknik
menulis tertentu, melainkan karena proses memulai itu sendiri tidaklah mudah,
menulis itu sungguh sangat menarik, menantang dan penuh pergulatan.
Aku pertama kali menulis bukan karena paksaan, tetapi karena kemauan
sendiri. Ada niat dan tekad yang perlahan tumbuh untuk mencoba memulai dari apa
yang ada, bukan dari apa yang seharusnya ada; dari kesederhanaan pikiran dan
perenungan, bukan dari kemewahan gagasan dan kemampuan berpikir. Sebuah langkah
awal yang disertai dengan dorongan kata-kata motivasi dan inspirasi, juga
pengalaman orang-orang yang telah lebih dahulu berjalan di jalan menulis.
Memotivasi diri untuk menulis itu memang benar. Semakin banyak kata yang kita
tuangkan di atas kertas, maka semakin luas dunia cerita dan sejarah yang kita
bangun; semakin dekat pula kita pada kisah yang utuh dan selesai, dan semakin ringan
proses menulis itu sendiri. Semakin sering kita menulis, semakin baik kita
terus melakukannya. Tak bisa dipungkiri bahwa training dan pengalaman yang
terus dijalani ini perlahan membentuk kita sebagai penulis dan pemikir.
Namun bagi sebagian orang, prinsip “Just
Write” kerap kali terasa sulit dan terdengar terlalu sederhana. Padahal,
justru di situlah fondasi dari praktik menulis yang berhasil dan sukses. Dengan
menuangkan kata-kata secara teratur, seseorang perlahan membangun keterampilan
dan disiplin yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek tulisannya, sekaligus
mengembangkan gaya menulis yang unik dan menarik.
Ketika kita merasa buntu dan kewalahan dalam proses menulis, sering kali
itu bukan karena tidak ada ide atau konsep, tetapi karena kurangnya kemauan dan
niat untuk memulai. Sebaliknya, jika kemauan dan keinginan untuk mencoba masih
ada, ingat selalu untuk menulis sebaik mungkin. “Just Write”, meski hanya satu atau dua kata, dari hal-hal yang
sederhana dan seadanya. Apa pun penilaian orang lain, betapa pun buruk menurut
mereka, hinaan itu justru bisa menjadi spirit pujian. Tuangkan pena di atas
kertas atau gerakkan jari di atas papan ketik, dan biarkan kata-kata mengalir.
Mungkin pada saat itulah kita akan terkejut oleh apa yang kita pikirkan dan
hasilkan.
Bagian tersulit saat menulis sering kali justru terletak pada keberanian
untuk memulainya. Menatap halaman kosong merasa sedang terintimidasi, mudah
terjebak dalam perfeksionisme dan keraguan terhadap diri sendiri. Tapi sejak
aku membeli sebuah buku harian semasa SMP, aku belajar memberi izin pada diriku
sendiri untuk menuliskan kata-kata di atas kertas tanpa mengkhawatirkan
kesempurnaannya. Aku memang tidak menulis banyak di buku harian itu, tetapi aku
menulis hanya seperlunya saja, hal-hal yang menjadi dorongan, inspirasi dan
imajinasiku untuk menulis. Hingga beranjak ke SMA, aku masih ingat tulisan
pertamaku yang aku tulis tentang kisah kehidupanku yang bertajuk “Masa-Masa
Awal Kehidupan”, sebuah tulisan yang pernah aku ikutsertakan dalam
lomba menulis yang diselenggarakan oleh PMP Germany pada tahun 2021.
Semenjak tulisan pertamaku dan seterusnya, aku semakin tertarik dan
terbiasa menulis di dalam buku. Tentang apa pun yang aku hadapi, alami, pikirkan dan
rasakan, selama itu layak dan pantas untuk dituliskan, aku menuliskannya. Dari
kebiasaan itu, gaya tulisanku perlahan berkembang dan menemukan wujudnya,
semakin percaya diri dalam mengekspresikan kata-kata, dan akhirnya aku
menemukan suara-suaraku sendiri lewat tulisan. Hingga pada Juni 2024, aku
menyelesaikan sebuah proyek menulis dan menerbitkan buku pertamaku berjudul “Semua Tentang
Sweetland, Goresan Surga yang Terluka”. Pasca bukunya terbit, aktivitas menulis semakin
menjadi sumber inspirasi baru. Aku terus menuangkan kata-kata di atas kertas
tanpa rasa bosan dan tanpa berhenti; ide-ide baru mulai mengalir dan aku
merangkai kehidupan ini ke arah yang tak terduga.
Untuk pertama kalinya, aku belajar merangkai kalimat
seperti jerami yang rapuh, sederhana, tetapi aku susun dengan teratur, jujur
dan sabar. Menulis menjadi alas yang menghangatkan dan menguatkan. Aku semakin
yakin bahwa “susah belum tentu tidak
mungkin”. Kehidupan itu seperti menulis, ada banyak pelajaran yang kerap
harus diulang. Jika belum bisa, bangkit lagi, hingga pada akhirnya lulus dari
ujian yang sama. Menulis untuk pertama kali memang biasa, penuh dengan
keraguan, ketidaksempurnaan, dan keengganan. Tetapi jika kita mau menulis dengan
setia, maka keberanian kecil itu perlahan akan tumbuh menjadi sesuatu yang luar
biasa. Hingga suatu hari, kita menoleh ke belakang dan berkata perlahan dengan
lembut dan senyum yang tenang, dari kata-kata yang ragu, kita bisa menemukan
suara kita sendiri.
Menyendiri
dan Menulis
Menyendiri saat menulis mungkin terdengar seperti
kebiasaan unik, bahkan bagi sebagian orang terasa asing. Namun justru aku lebih
suka menyendiri, sebab dengan menyendiri aku bisa berjumpa dengan pikiran
sendiri secara jujur. Bukan karena aku ingin menghindar dan menjauh dari
teman-teman, kebersamaan atau keramaian, melainkan karena dengan menyendiri aku
menemukan ruang yang aman, nyaman, damai, dan syahdu untuk mendengar suara
kalbu kecilku serta bisikan-bisikan pemikiran yang sering kali terabaikan. Menulis
memang membutuhkan keheningan tertentu agar kita bisa leluasa berpikir,
berbicara dan bergerak. Dalam kebiasaanku menulis saat menyendiri, aku kerap
tenggelam dalam proses berpikir yang dalam, bahkan berbicara dengan diriku
sendiri seperti orang gila, bergerak, berdiri, atau berjalan ke sana kemari.
Dari dialog dan dinamika itulah ide, konsep dan pemikiran bermunculan. Semua
yang hadir dan terlintas sesegera mungkin aku goreskan di atas kertas, sebelum
berlalu dan menghilang begitu saja.
Dalam aktivitas menulis, menyendiri memiliki peran
besar dalam membantu kita untuk fokus dan konsentrasi. Saat dunia luar mereda,
pikiran menjadi lebih jernih untuk menata ide dan emosi yang ingin kita tuangkan
ke dalam tulisan. Penulis yang terbiasa menyendiri cenderung memiliki kepekaan
yang lebih tajam terhadap lingkungan di sekitarnya dan perasaan orang lain.
Kesendirian melatih kejelian kita membaca suasana, menangkap isyarat emosional,
dan memahami hal-hal yang sering luput dari perhatian. Kebiasaan menyendiri ini
memberi kesempatan untuk aku bisa jujur dan terbuka. Dalam vibes sunyi dan
syahdu, aku berhadapan dengan perasaan, penasaran, pemikiran, dan perenungan;
dengan kegelisahan, ketakutan, doa-doa, harapan, serta luka-luka yang mungkin
selama ini tersembunyi. Dari momen itulah aku memperoleh ketajaman, kedalaman
dan kedamaian. Tulisan yang bernyawa ini tidak lahir dari pikiran yang
tergesa-gesa, tetapi dari perenungan yang matang dan kesediaan untuk berdialog
dengan diri sendiri secara jujur dan sadar.
Kendatipun demikian, aku tidak selalu menghabiskan
banyak waktuku untuk menyendiri dengan lama. Karena terlalu lama kita menyendiri
juga justru bisa terjebak dalam pusaran pikiran kita sendiri, yang membuat
ide-ide berputar tanpa menemukan jalan keluarnya. Menulis tidak akan menjadi
medium pembebasan, tetapi kuk yang membingungkan. Kesendirian tidak boleh
menjelma sebagai keterasingan. Penulis tetap membutuhkan dunia di luar dirinya
sebagai cermin dan sumber kehidupan. Tulisan yang baik lahir dari sebuah perjumpaan
antara keheningan batin dan realitas sosial. Untuk itu, menemukan keseimbangan antara
kesendirian dan interaksi sosial menjadi hal yang penting demi menjaga
kesehatan mental dan merawat kreativitas dalam menulis.
Menyendiri saat menulis bagi aku, itu bukan tujuan
akhir, tetapi sarana. Menulis itu perlu ditakar, diimbangi dan disadari batas-batasnya.
Sebab setiap tempat adalah kelas, setiap orang adalah guru, dan setiap
pengalaman adalah pelajaran yang berharga. Kesendirian memberi arah dan
kehidupan memberi isi. Di sanalah menulis menemukan keseimbangannya, tidak
terputus dari dunia, tetapi juga tidak larut di dalamnya. Menyendiri dan menulis adalah sebuah proses
berdamai dengan diri sendiri. Menulis mengajarkan kita bahwa keheningan bukan
kehampaan, tetapi ruang subur tempat kata-kata tumbuh perlahan. Menulis bukan
hanya untuk didengar orang lain, tetapi terlebih untuk memahami diri kita
sendiri.
Musik
dan Menulis
Selain menyendiri dan memilih tempat-tempat yang sepi
untuk menulis, aku juga lebih suka menulis sembari mendengarkan musik. Musik
menjadi teman yang paling setia dalam setiap proses kreatifku. Dengan
mendengarkan musik saat menulis, aku merasa semangat, termotivasi dan
terinspirasi. Musik membantu meningkatkan kreatifitas, membangkitkan imajinasi,
dan memicu ide-ide kreatif yang membuat pikiranku bergerak lebih leluasa.
Suara-suara bising dan distraksi di sekitar sering kali mengganggu
konsentrasiku saat menulis. Musik hadir sebagai penyeimbang. Dengan memilih
musik yang tepat, sesuai suasana hati dan waktu, aku bisa memusatkan fokus
sepenuhnya pada tulisan. Alunan nada menyingkirkan kebisingan, menghadirkan ruang
yang lebih kalem di dalam pikiran. Dari situlah kata-kata mulai menemukan
iramanya sendiri.
Lebih dari sekadar latar suara, musik juga berperan
penting dalam menjaga suasana batin. Ketika aku merasa sedang kurang
termotivasi atau merasa tertekan. Musik menjadi penolong dan penenang yang paling
baik saat aku menulis. Musik membantu memperbaiki mood dan membawa suasana hati
lebih positif. Dalam suasana seperti itu, menulis tak lagi terasa sebagai
beban, tetapi sebagai proses yang mengalir, pelan tapi pasti. Musik seolah
menjadi jembatan antara perasaan yang sulit diungkapkan dan kata-kata yang
ingin dituliskan.
Musik memiliki kemampuan yang paling unik untuk
menangkap dan menyampaikan esensi emosi, termasuk emosi cinta, dengan cara yang
mendalam dan menyentuh. Setiap lagu membawa kisahnya sendiri, tentang romansa,
patah hati, kerinduan, kebahagiaan dan kehilangan. Lagu-lagu itu menawarkan
perspektif yang beragam tentang perasaan manusia, membuka kemungkinan baru
dalam cara memahami dan menulis emosi. Saat aku mendengarkan beragam genre musik, aku tidak hanya memperhatikan liriknya, tetapi juga vibes dan atmosfer yang
diciptakan. Nada-nada yang pelan membawa ketenangan, sementara irama yang kuat
membangkitkan semangatku. Elemen-elemen ini membentuk lanskap emosional dalam
tulisanku. Musik menentukan warna perasaan yang ingin aku sampaikan, baik yang
lembut, getir, penuh harapan atau melankolis.
Menulis sambil mendengar musik juga membantuku
memahami bahwa kreativitas tidak selalu lahir dari keheningan total. Adakalanya,
justru dari setiap alunan nada, pikiran menemukan jalannya. Musik memberi ritme
pada proses menulis, seperti detak yang mengatur langkah kata demi kata. Setiap
paragraf seakan mengikuti irama yang tak terlihat tapi terasa. Musik dan
menulis bagiku merupakan dua hal yang saling menguatkan. Musik menjadi
kendaraan yang mengantar perasaan, dan tulisan menjadi wadahnya. Keduanya
berpadu dalam proses kreatif yang sederhana tapi sangat bermakna. Dalam irama
musik aku belajar menulis dengan perasaan; dan dalam tulisan, aku menemukan
gema dari nada-nada yang menemani perjalanan kata-kataku.
Menulis Sambil Berpikir
dan Membaca
Aku tidak tahu bagaimana cara orang lain menulis.
Setiap penulis tentu memiliki jalannya masing-masing. Namun bagiku, menulis
selalu berjalan beriringan dengan membaca. Aku tidak bisa hanya menulis tanpa
membaca, ataupun membaca tanpa menulis. Ketika menulis, aku merasa perlu untuk
membaca, menjadikan bacaan sebagai bahan rujukan, referensi dan ruang dialog.
Karena itu adalah bekal pertimbangan, perdebatan, bahkan penolakan terhadap
gagasan yang tidak sejalan dengan pemahaman dan cara pandangku atas sesuatu
yang ingin aku tuliskan.
Membaca memberiku pijakan dan menulis memberiku arah.
Keduanya saling melengkapi. Menulis bukan sekadar menuangkan pikiran sendiri,
melainkan juga menanggapi pikiran orang lain. Bacaan sekaligus menjadi lawan
bicara: ada gagasan yang aku ambil, ada yang aku timbang, dan ada pula yang aku
tolak. Dari dialog inilah proses berpikir berlangsung dan membuat
tulisan-tulisan kita tidak lahir secara serampangan, tetapi melalui pergulatan
batin dan intelektual. Membaca mengajarkan kita untuk berpikir; dari berpikir
kita belajar menulis; dan dari menulis kita mengenali dunia, memahami diri
sendiri, serta membaca orang lain dengan lebih jernih. Melalui proses inilah menulis menemukan
maknanya, bukan hanya sebagai aktivitas, tetapi sebagai perjalanan batin yang
terus berlangsung, pelan, jujur dan penuh kesadaran.
Perasaan juga memiliki peran yang besar dalam proses
ini. Aku mudah sekali terbawa emosi saat membaca, baik buku fiksi maupun
nonfiksi. Ada saat-saat aku larut dalam suasana, terharu, tersentuh, bahkan
meneteskan air mata ketika membaca kisah-kisah melodrama. Kadang kala aku
tersenyum malu atau merasa hangat ketika membaca tulisan yang bernuansa
romantis. Pengalaman emosional semacam itu tidak hanya dialami oleh pembaca;
penulis pun mengalaminya. Aku pun merasakannya bukan hanya saat membaca, tetapi
juga saat menulis, sambil mengenang perjalanan hidupku sendiri. Aku menulis
dengan sepenuh hati dan jiwa, membiarkan emosi hadir apa adanya. Dari situlah
imajinasi, interpretasi, refleksi, dan nuansa tumbuh secara alami. Emosi yang
jujur ini memperkaya naskah, membuat tulisan kita terasa lebih hidup, mengalir
dan memiliki kedalaman. Menulis bukan hanya kerja pikiran, tetapi juga kerja
perasaan.
Menulis sambil membaca juga memperluas cakrawala
pemikiranku. Banyak sekali ide-ide dan gagasan yang bermunculan, seolah
imajinasiku hidup, imajinasi sebagai seorang penulis. Aku merasa seperti
memiliki dua pikiran yang bekerja secara bersamaan: pikiran otak dan pikiran
buku. Pemikiran otak merangkai gagasanku sendiri, dan pikiran buku
memperluasnya melalui percakapan dengan pemikiran orang lain. Dari pertemuan
keduanya, lahirlah tulisan yang terus berkembang. Seperti kalimat yang dipahat
filsuf Prancis René Descartes, “Membaca semua buku yang bagus
itu seperti berbicara dengan pikiran-pikiran terbaik dari abad-abad sebelumnya”.
Buku menawarkan akses abadi pada kebijaksanaan, gagasan dan perspektif yang
telah disaring oleh para pemikir yang hebat, memungkinkan pembaca untuk
terlibat dalam dialog aktif dengan para raksasa intelektual sejarah lintas
generasi untuk pertumbuhan pribadi maupun intelektual yang mendalam. Membaca
itu melampaui waktu, menjadikan penulis-penulis hebat sebagai mentor yang tak
banyak bicara, tetapi melestarikan pemikiran manusia untuk pembelajaran di masa
depan.
Menulis sambil berpikir dan membaca adalah caraku
merawat pikiran dan perasaan. Menulis bukan hanya metode, tetapi proses panjang
untuk memahami dunia, diri sendiri, dan segala sesuatu yang berada di
antaranya. Saat membaca buku-buku yang baik maupun proses berpikir dan
perenungan yang panjang, gagasan-gagasan yang berharga kerap bermunculan. Jika
tidak segera mencatatnya, sebagian besar ide kita itu akan menghilang begitu
saja. Karena itu, menulis menjadi cara agar konsep dan pemikiran kita tetap
hidup. Dengan mencatatnya selagi masih segar, aku tidak perlu berpikir dua kali
untuk mengembangkannya. Menulis membantu mengikat pikiran agar tidak tercerai-berai,
menjaga agar gagasan tidak sekadar singgah, tetapi menetap dan bertumbuh.
Kata-kata menjadi rumah bagi pikiran, sekaligus ruang yang aman bagi perasaan.

Komentar
Posting Komentar