Luka Tak Lahir dari Huruf
Ada yang takut pada buku, seperti takut pada api. Ada yang gelisah melihat anak muda membaca, seolah dari sana akan lahir pemberontakan. Tapi mari kita renungkan perlahan: benarkah membaca bisa menciderai? Benarkah huruf bisa melukai? Tidak. Luka tak lahir dari huruf.
Huruf tidak punya tangan untuk memukul. Buku tak punya senjata untuk menusuk. Yang mereka miliki hanyalah makna. Dan makna hanya melukai jika kita menolaknya, jika kita tak siap menerimanya. Seperti mata yang pedih saat pertama kali melihat cahaya setelah lama hidup dalam gelap.
Membaca bukan kejahatan. Ia adalah bentuk paling sunyi dari keberanian. Membaca berarti membuka diri terhadap pandangan yang berbeda, terhadap kemungkinan bahwa kita belum tahu segalanya. Ini yang kadang menakutkan bagi sebagian orang bukan karena kata-kata dalam buku itu jahat, tapi karena mereka membongkar kebiasaan berpikir yang nyaman, membangunkan hati nurani yang lama tertidur.
Lalu mengapa ada yang melarang buku? Mengapa ada yang menganggap membaca sebagai tindakan berbahaya?
Karena buku menyimpan kekuatan yang tak bisa dibelenggu. Dalam huruf-huruf kecil yang bersahaja, tersimpan pemikiran, harapan, dan imajinasi yang bisa melampaui tembok-tembok tinggi kekuasaan dan tradisi. Buku bisa membuat seseorang berpikir. Dan orang yang berpikir tidak mudah ditaklukkan.
Namun tetap, bukan buku yang menciderai. Yang menyakiti adalah rasa takut, ketidaktahuan yang dipelihara, dan kekuasaan yang alergi terhadap pertanyaan.
Luka yang sesungguhnya lahir dari pembatasan akses terhadap pengetahuan. Dari larangan membaca, dari sensor yang membungkam, dari sistem yang menganggap berpikir adalah ancaman. Itulah luka yang nyata, luka kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Luka yang tumbuh bukan dari huruf, tapi dari ketakutan pada huruf itu sendiri.
Padahal, buku tak pernah memaksa. Ia hanya menunggu. Ia bersandar tenang di rak, menunggu siapa saja yang ingin membuka jendela pikirannya. Dalam sunyi, ia menyiapkan ruang bagi siapa pun yang ingin menemukan dirinya sendiri.
Maka, mari kita rawat satu keyakinan ini: bahwa membaca tak pernah melukai. Justru dari bacaan, kita disembuhkan oleh cerita, oleh sejarah, oleh gagasan, ide, dan konsep yang memperluas pandangan dan cakrawala berpikir kita.
Karena luka tak lahir dari huruf. Ia lahir dari keengganan untuk memahami. Dan membaca sekecil apa pun itu selalu jadi langkah awal menuju pemulihan.
"Membaca tidak menciderai, ia membebaskan dari penjara kebodohan, menyembuhkan luka-luka dalam jiwa, menyalakan cahaya di ruang gelap pikiran, menumbuhkan keberanian untuk berpikir, dan merawat nurani yang hampir mati". Seno Rocky Pusop
BORDER
Buku adalah tempat pulang paling nyaman, buku adalah teman yang setia di saat sunyi dan sepi. buku menemani kesepian tanpa menghakimi, menghibur tanpa menggurui. Dalam halaman-halamannya kita kerap menemukan kalimat yang seolah ditulis khusus untuk kita, menyentuh luka yang tidak pernah kita ceritakan atau menguatkan harapan yang nyaris padam.

Komentar
Posting Komentar