Orang Bebal Sukse, Orang Bijak Gagal
Ketika kehidupan kita tidak berjalan
menurut logika kebaikan, sepertinya ada sesuatu yang terasa sangat ganjil dan aneh
bin ajaib. Di saat kita hidup dengan keyakinan bahwa dunia seharusnya memiliki
tatanan moral, tetapi pada saat yang persamaan kita terus-menerus berhadapan
dengan realita bahwa dunia tidak selalu bekerja menurut tatanan yang kita
yakini. Aku sebenarnya tidak bermaksud menakar siapa yang lebih pantas disebut
sukses dan siapa yang layak disebut gagal. Aku juga tidak sedang berusaha
memisahkan manusia ke dalam dua kelompok antara orang bebal dan orang bijak.
Terlebih lagi, ulasan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Apa yang aku
elaborasikan di sini hanyalah sebuah realitas yang kerap kali terjadi dalam
kehidupan sejuta umat manusia sebagai paradoks yang terkadang juga membuat
kita bertanya-tanya tentang bagaimana realita ini dunia terus bekerja.
Sejak kecil, kita diajarkan untuk
membedakan sesuatu yang baik dan sesuatu yang buruk, yang benar dan yang salah,
yang paling bijaksana dan yang bodoh. Kita diajarkan bahwa kejujuran adalah
kebajikan, kesabaran adalah kekuatan, kebijaksanaan adalah kematangan, dan
kebaikan itu dengan sendirinya akan menemukan jalannya. Kita semua tumbuh
dengan keyakinan kuat bahwa kehidupan memiliki mekanisme keadilan yang meskipun
terkadang terlambat, tetapi pada endingnya akan menempatkan segala sesuatu pada
tempatnya.
Namun, kehidupan sering kali datang
untuk membantah keyakinan tersebut. Kita menyaksikan orang yang jujur
kehilangan kesempatan. Orang yang tulus dikhianati. Orang yang bijaksana
tersingkir. Orang yang bekerja dalam diam tidak selalu dikenang. Tetapi sebaliknya,
kita terkadang menyaksikan mereka yang keras kepala, manipulatif, ceroboh,
bahkan tidak memiliki kedalaman berpikir, mereka justru memperoleh keberhasilan,
kekuasaan, kekayaan, pengaruh dan pengakuan. Realita semacam ini, tidak hanya
membuat kekecewaan, tetapi juga mengalami sesuatu yang lebih dalam, yakni
krisis terhadap cara memahami kehidupan. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan
hanya keberhasilan seseorang, melainkan keyakinan kita tentang hubungan antara
kebaikan dan ganjaran, kebijaksanaan dan keberhasilan, keburukan dan kegagalan.
Ada seuntai pertanyaan yang kerap
muncul di benakku. Jika dunia ini memang adil, mengapa orang-orang baik harus
gagal? Jika kebijaksanaan merupakan kualitas yang membuat manusia lebih baik,
mengapa orang-orang bijak tidak selalu berhasil? Jika kebebalan adalah
ketidakmampuan memahami kebenaran, mengapa orang-orang bebal justru berhasil
dan mampu mencapai apa yang mereka inginkan? Pertanyaan-pertanyaan semacam
ini barangkali sangat tidak nyaman dan jawabannya tidak sebersahaja yang kita
bayangkan. Bahkan, mungkin lebih mudah bagi kita untuk menghindarinya daripada
menghadapinya. Tetapi justru pertanyaan yang sedap sering kali menjadi pintu masuk menuju pemahaman yang lebih jujur tentang kehidupan.
Aku membiarkan berbagai pertanyaan
ini terus berkelindan dalam pikiranku. Sebuah pertanyaan yang tumbuh dari
pengamatan maupun pengalaman yang mungkin saja sudah terjadi atau sedang
terjadi di sekitar kehidupan kita. Aku tidak mempermasalahkan pertanyaan ini.
Menurutku, pertanyaan semacam ini tidak harus berakhir dalam sebuah perdebatan.
Justru perlu diberi ruang untuk diinterpretasikan. Sebab, tidak semua pertanyaan
harus segera dijawab. Ada pertanyaan yang memang harus dibiarkan hidup dalam
diri kita agar kita belajar memahami kehidupan dengan lebih dalam. Aku juga
tidak ingin membahas bagaimana seseorang menjadi sukses atau gagal. Jika
pembicaraannya hanya berkutat pada definisi kesuksesan dan kegagalan, maka kita
akan kehilangan inti persoalan. Yang ingin aku utarakan adalah kontradiksi dan
korelasi di balik keduanya. Karena apa yang disebut “sukses maupun gagal” mungkin hanyalah sebuah konstruksi sosial yang
berubah mengikuti zaman, kebudayaan, kepentingan dan ukuran manusia.
Manusia sering beranggapan bahwa
orang bijak seharusnya berhasil dan orang bebal seharusnya gagal. Secara moral,
asumsi itu memang benar terasa masuk akal. Tetapi realita kehidupan tidak
selalu mengikuti intuisi moral yang kita desain. Terdapat potret realisme
kehidupan yang terkadang meresahkan manusia. Realitas semacam ini bisa saja mengguncang
keyakinan seseorang terhadap tatanan kehidupan, keadilan, bahkan terhadap
makhluk tertinggi yang mengendalikan hidup seseorang. Banyak orang bijak maupun
bebal yang pada suatu titik merasa dirinya terlempar ke dalam pusaran
ketidakpastian. Kehidupan terasa tidak adil dan apa yang selama ini mereka
yakini dan akui tentang kebaikan dan keadilan seolah-olah tidak selalu
menemukan tempat yang tepat di dunia nyata. Realita ini melahirkan kesadaran
pahit dan kenyataan yang terkadang sulit diterima karena tidak selalu bekerja
berdasarkan logika yang kita inginkan dan tidak selalu berjalan sesuai dengan asumsi
yang kita bangun tentang keyakinan.
Di sinilah terletak ambivalensi
kehidupan, ada entitas yang saling bertentangan, tetapi pada saat yang
persamaan saling menjelaskan. Kegagalan bisa membuat seseorang menjadi
bijaksana. Keberhasilan bisa membuat seseorang menjadi bebal. Kegagalan bisa
menghancurkan seseorang, tetapi juga bisa membentuk seseorang. Begitupun
kesuksesan bisa mengangkat seseorang, tetapi juga bisa menjerumuskannya. Maka,
mungkin pertanyaan yang jauh lebih penting bukan lagi tentang, “Mengapa orang bebal sukses dan orang bijak
gagal?” Melainkan: “Apa yang
dilakukan seseorang terhadap kesuksesan dan kegagalannya?” Sebab
keberhasilan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, sebagaimana kegagalan bukan
akhir dari suatu kehidupan.
Pokok pembahasan yang bertajuk “Orang
Bebal Sukses, Orang Bijak Gagal” bukan sebuah hukum kehidupan, tetapi
sebuah paradoks, kegelisahan dan pertanyaan yang sengaja dibiarkan terbuka agar
manusia tidak terlalu cepat menyimpulkan bahwa keberhasilan adalah sebuah bukti
kebenaran dan kegagalan adalah bukti kesalahan. Barangkali di sinilah letak
kekeliruan manusia memahami kehidupan, kita terlalu sering menggunakan hasil
untuk menilai nilai.
Kesuksesan dan kebijaksanaan sesungguhnya
berada pada ruang yang berbeda. Seseorang bisa sukses tanpa menjadi bijaksana.
Seseorang juga bisa menjadi bijaksana tanpa segera memperoleh kesuksesan.
Begitu pula seseorang bisa gagal bukan karena bodoh, dan seseorang bisa
berhasil bukan semata-mata karena cerdas. Kesuksesan acap kali merupakan hasil
dari banyak variabel seperti kesempatan, keberanian mengambil risiko, kemampuan
membaca keadaan, jaringan sosial, momentum, kondisi ekonomi, lingkungan, bahkan
faktor keberuntungan. Sementara kebijaksanaan lebih berkaitan dengan cara
seseorang memahami kehidupan, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain,
dan berdamai dengan dirinya sendiri. Oleh karena itu, ketika manusia berusaha
menyamakan keberhasilan dengan kebijaksanaan adalah sebuah kekeliruan. Orang
yang berhasil belum tentu bijaksana. Orang yang gagal juga belum tentu bodoh.
Dan orang yang tampak bebal belum tentu selamanya gagal.
Kadang-kadang kita juga keliru dalam
menilai dan membaca kehidupan. Kita terlalu sering menilai seseorang
berdasarkan hasil akhirnya, lalu menggunakan hasil tersebut untuk mengukur
kualitas dirinya. Ketika seseorang berhasil, kita menyebutnya hebat. Ketika
seseorang gagal, kita menganggapnya tidak mampu. Padahal, kita tidak pernah
mengetahui seluruh perjalanan yang berada di balik sebuah keberhasilan maupun
kegagalan. Di balik seseorang yang berhasil, mungkin ada perang yang tidak pernah
kita tahu, maupun di balik seseorang yang gagal, mungkin ada kebijaksanaan yang
sedang tumbuh dalam kesunyian. Ini sebuah singgasana paradoks terbesar
kehidupan itu berada, kita tidak pernah tahu siapa yang sedang menang ataupun
siapa yang sedang kalah, sebab kehidupan belum selesai. Kita hanya sedang
membaca satu halaman dari sebuah cerita yang masih dipikirkan, masih ditulis dan
masih panjang.
Apa yang hari ini disebut keberhasilan, pada suatu masa nanti mungkin tidak berarti apa-apa. Begitu pun yang dianggap kegagalan oleh orang, mungkin justru menjadi proses paling penting dalam membentuk seseorang. Dengan demikian, keberhasilan dan kegagalan bukanlah dua kutub sesederhana yang kita bayangkan. Keduanya adalah pengalaman eksistensial yang memiliki makna bagi setiap umat manusia. Kadang ada orang yang berhasil tetapi kehilangan dirinya sendiri. Ada orang yang gagal tetapi menemukan siapa jati dirinya. Ada orang yang memperoleh dunia ini tetapi kehilangan kedamaian. Ada pula orang yang nyaris kehilangan segala sesuatunya, tetapi justru menemukan makna hidup yang sebelumnya tidak pernah dikenalinya.
Setiap manusia adalah spektrum warna
yang rumit, di dalam dirinya ada gelap dan terang. Ada keberanian dan
ketakutan. Ada kebijaksanaan dan kebodohan. Ada keteguhan dan keraguan. Ada suara
yang bising, tetapi juga ada keheningan yang tidak pernah diketahui orang lain.
Hidup ini tidak sebersahaja hitam dan putih. Seseorang yang hari ini terlihat
bijaksana mungkin pernah melakukan kebodohan di masa lalu. Seseorang yang hari
ini terlihat gagal mungkin sedang menyiapkan sesuatu yang belum mampu kita
lihat. Begitu juga dengan seseorang yang hari ini berhasil belum tentu sedang
menjalani kehidupan yang benar-benar berhasil. Kita terlalu cepat memberikan
label kepada manusia berdasarkan satu bab dari kehidupannya, padahal setiap
orang memiliki buku yang jauh lebih panjang daripada apa yang terlihat di
permukaan.
Kehidupan adalah keberanian untuk
tetap berjalan di antara beragam pertanyaan yang belum selesai sembari perlahan
menyadari bahwa tidak semua kegagalan adalah kehancuran, dan tidak semua kesuksesan
adalah kemenangan. Kegagalan boleh menjadi bagian dari cerita kita, tetapi
jangan membiarkannya menjadi identitas. Kesuksesan boleh menjadi sesuatu yang
disyukuri, tetapi jangan membiarkannya menjadi alasan untuk merendahkan orang
lain. Sebab hidup ini terus bergerak menuju waktu-waktu yang penuh dengan
misteri, materi dan teori.
Seklise apa pun kalimat ini terdengar
nyeleneh, barangkali inilah salah satu kebijaksanaan paling sederhana yang
bisa kita genggam erat-erat. Jangan pernah membiarkan kesuksesan membuatmu
sombong, dan jangan pernah membiarkan kegagalan menghancurkan hatimu. Karena
yang menentukan nilai seseorang bukan semata-mata oleh seberapa tinggi seseorang
pernah berdiri atau seberapa dalam seseorang pernah jatuh, tetapi bagaimana
seseorang tetap menjadi manusia yang sejati seutuhnya setelah mengalami
kesuksesan dan kegagalan.

Komentar
Posting Komentar