Belajar Menghargai Buku

Buku adalah salah satu penemuan paling sunyi dalam sejarah umat manusia. Buku tidak berteriak, tidak memaksa dan tidak mendesak untuk segera dipahami. Buku hanya menunggu di rak kayu yang sederhana, di sudut kamar yang temaram atau di meja-meja yang mulai berdebu. Namun justru dalam diam itulah buku menyimpan kekuatannya. Buku berbicara kepada siapa saja yang bersedia meluangkan waktu, membuka halaman-halamannya dan menyerahkan diri pada perjalanan makna. Sayangnya, banyak orang yang melupakan dan meletakkan buku serta dianggap sebagai benda yang usang, diam di rak, berdebu, dan perlahan dilupakan. Padahal buku bukan hanya tumpukan kertas yang dijilid rapi. Buku adalah jejak pergulatan manusia, sebuah ruang sunyi tempat pikiran dirajut dan saksi bisu dari jerih payah yang tak terhitung.

Buku bukan sebatas kumpulan kata-kata yang dipahat oleh pikiran dan tangan manusia, melainkan jejak perjalanan batin manusia. Yang di dalamnya tersimpan kegelisahan, harapan, pertanyaan dan pencarian panjang akan kebenaran hidup. Setiap halaman adalah saksi dari pergulatan pikiran dan perasaan yang pernah nyata, pernah berdarah dan pernah diperjuangkan. Oleh karena itu, ketika kita memperlakukan buku dengan sembarangan, artinya sama saja kita sedang mengabaikan suara kemanusiaan yang ingin didengar. Karena belajar menghargai buku, berarti kita belajar menghargai kehidupan itu sendiri dengan segala luka-lukanya, harapannya dan pencariannya. Melalui buku, kita membuka hati untuk belajar dari pengalaman orang lain, menemukan cerita tentang dunia, melainkan juga menemukan kembali makna menjadi manusia.

Salah satu cara sederhana dan paling jujur untuk menghargai buku adalah dengan membacanya, merawatnya dan menjaganya dengan penuh kesadaran. Buku yang kita genggam tidak pernah menuntut balasan, tidak pula memohon belas kasihan. Entah kita dapat buku secara cuma-cuma, kita beli sendiri atau ketika kita terima sebagai hampers dari penulisnya, buku tetap hadir dengan kerendahan hati yang sama, diam, setia dan selalu menunggu untuk disentuh oleh tangan dan pikiran pembacanya. Buku tidak menagih pujian, tidak memaksa untuk segera dipahami, juga tidak marah ketika ditinggalkan di tengah halaman, buku tetap menyimpan martabatnya.

Alasan mengapa kita perlu belajar menghargai buku sesungguhnya sangat sederhana, tapi kerap diabaikan. Setiap mahakarya yang lahir ke dunia adalah hasil dari proses pergulatan batin yang panjang, tidak ada satu pun mahakarya yang lahir secara instan. Di balik sebuah judul buku dan halaman-halamannya tersimpan hari-hari tanpa istirahat, penuh dengan kegelisahan, pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, perasaan, daya dan dana dari sang penulis. Sebuah buku lahir dari proses batin yang sering kali melelahkan dan menyakitkan, proses ini tidak singkat dan tidak mudah. Perjalanan panjang dan sunyi yang penuh dengan perjuangan. Namun melalui ketekunan dan kesetiaan pada proses itulah seseorang melahirkan sebuah karya yang bernyawa dan bermakna, bukan karena tebalnya halaman, tetapi karena kedalaman pergumulan yang melahirkannya.

Aku barangkali bukan seorang penulis dalam pengertian yang telah teruji atau mahir. Aku hanya seorang yang mencoba menulis, dari proses mencoba itulah aku mulai merasakan bagaimana menjadi seorang penulis dan memahami makna dibalik sebuah buku. Menulis ternyata bukan hanya pekerjaan yang ringan. Menulis mengubah cara kita memandang dunia dan diri kita sendiri. Sejak aku mulai tulis-menulis, aku merasakan perasaan yang bercampur aduk: kelelahan menulis, pening memikirkan ide, takut kehilangan kata-kata, tubuh yang tiba-tiba jatuh sakit, hingga menulis tanpa istirahat dengan emosi yang meluap-luap dan kegelisahan yang sulit dijelaskan.

Namun justru dalam proses inilah aku berjuang dan bertahan di tengah berbagai tantangan, cobaan dan ujian kehidupan yang tidak pernah berhenti. Menulis di tengah kerasnya hidup membuatku sadar bahwa tidak semua orang mampu dan bersedia melewati jalan ini. Dari pengalaman ini, aku mulai memahami satu hal penting dalam hidupku: bahwa tidak ada buku yang lahir secara instan atau sembarangan. Setiap karya yang sukses sampai ke tangan pembaca adalah hasil dari perjuangan seorang penulis, kesetiaannya pada proses, maupun keberaniannya untuk tidak menyerah. Sebuah perjuangan yang sering kali tak terlihat tapi nyata dan penuh makna. Buku bukan produk kebetulan, tapi buku adalah buah dari ketekunan.

Buku adalah refleksi realitas dan pengalaman hidup yang diterjemahkan menjadi kata-kata. Jika kita mengabaikan buku berarti bukan hanya mengabaikan benda mati, tetapi juga kita sedang meremehkan perjuangan orang lain. Buku tercermin dari cara kita memperlakukannya. Ketika kita merobek halaman, membiarkannya rusak atau memandangnya dengan acuh tak acuh, kita sedang menunjukkan ketidakmampuan kita untuk menghargai kerja keras dan usaha manusia. Sebaliknya, dengan membaca, merawat, dan menjaga buku, kita ikut menjaga nilai dari usaha sang penulis dan orang-orang yang berkontribusi dalam kelahirannya.

Buku adalah sesuatu yang menarik sekaligus menantang. Jika kita suka membaca, buku bisa menjadi tempat pulang, ruang perenungan, sumber penghiburan dan sahabat paling setia yang menyenangkan. Buku menemani dan menghibur pembaca tanpa menghakimi dan menggurui. Buku juga menjadi jembatan lintas waktu dan ruang untuk berdialog dengan pemikir yang telah lama tiada, memahami kebahagiaan dan penderitaan, menyelami perjuangan hidup di persada ini, serta memasuki pengalaman hidup yang berbeda dari kita. Namun jika kita tidak suka membaca, terasa membosankan, berat dan enggan membukanya. Semua tergantung kepekaan dan kesiapan batin kita. Ketika membaca dengan sukacita, halaman demi halaman terasa hidup dan berbicara. Tapi ketika dibuka dengan keterpaksaan, huruf-huruf tampak kaku dan kehilangan daya pikatnya.

Tidak semua buku mudah dibaca, dan tidak setiap bacaan langsung menyenangkan. Ada buku yang menantang, ada yang mengguncang keyakinan, bahkan ada pula buku yang membuat kita tidak nyaman. Buku tidak selalu hadir untuk menghibur, tetapi untuk menyadarkan. Membaca bukan sekadar mencari pembenaran, tetapi keberanian untuk berhadapan dengan gagasan yang berbeda. Sebelum menyelami sebuah buku, ada baiknya mengenal lebih dahulu siapa penulisnya, serta latar belakang lahirnya buku tersebut. Sebab sering kali, tulisan bukan hanya rangkaian kata, tapi cermin dari kehidupan pribadi penulisnya. Pengalaman, pergulatan, luka, harapan, dan realitas yang mereka alami menjelma menjadi perspektif yang tertuang di dalam karya. Karena sebagian besar waktu dan kehidupan pribadi penulis berdampak pada tulisan itu sendiri. Mereka menjadikan kehidupan mereka sebagai perspektif dan realitas yang tertulis dan hidup di atas kertas. Terutama ketika kisah itu berakar dari pengalaman nyata, tulisannya itu menjadi lebih dari sekadar imajinasi. Bukunya menjadi kesaksian. Ketika kita membacanya, kita tidak hanya memahami isinya, tetapi juga merasakan denyut kehidupan sang penulis yang melahirkan bukunya.

Kendatipun demikian, menghargai buku bukan semata persoalan etika membaca, tapi juga sikap batin terhadap pengetahuan, proses, dan kehidupan, maupun manusia yang menuliskannya. Kita belajar menghargai perjuangan, tangan yang menulis, pikiran yang berpikir dan hati yang jujur dan berani terbuka. Jika menghormati kata-kata yang tertulis di dalamnya sama artinya dengan menghormati perjuangan, ketekunan dan kesetiaan dari sang penulis yang tak selalu terlihat tapi bisa dirasakan dan dinikmati. Saat kita membaca sungguh-sungguh, kita sedang belajar menghormati kerja keras orang lain dan menghargai sesama manusia, karena ada empati yang tumbuh. Membaca bukan hanya aktivitas intelektual, tapi juga tindakan etis. Melalui sikap menghargai buku, kemanusiaan kita perlahan diasah, diperdalam dan dimatangkan

Buku adalah perpanjangan dari pikiran manusia. Cara kita menghargainya akan tercermin dari bagaimana cara kita memperlakukannya, seperti itulah kita juga akan memperlakukan orang lain. Ketika kita merawat buku, menjaganya agar tidak rusak, menyimpannya dengan baik, itu adalah bentuk penghormatan terhadap pengetahuan dan usaha manusia. Buku yang terawat bukan hanya menandakan kedisiplinan, tetapi juga kesadaran bahwa apa yang kita pegang memiliki nilai lebih dari sekadar harga di toko. Buku harus dihargai sebagai saksi bahwa manusia pernah berpikir, pernah merasa, dan pernah berjuang memahami hidup dengan segala keterbatasannya.

Belajar menghargai buku adalah sebuah proses belajar menjadi manusia yang lebih utuh. Buku mengajarkan kita tentang kesabaran, kerendahan hati, empati dan penghormatan terhadap proses. Karena manusia pun laksana sebuah buku yang sedang menulis ceritanya sendiri. Pada bab-bab tertentu, hidup tampak penuh, meski di dalamnya terasa hampa. Ada halaman yang kita ingin pamerkan, ada pula halaman yang kita ingin sembunyikan. Semua tergantung kebebasan kita untuk memilih: apakah ingin menata sampul yang indah, memperdalam isinya atau berusaha menghadirkan keduanya. Akan tetapi nilai sebuah buku dan nilai sebuah hidup tidak ditentukan oleh sampul semata, namun ditentukan oleh kejujuran isinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Agama Tidak Relevan Bagi Manusia

Luka Tak Lahir dari Huruf

Menulis Untuk Pertama Kali