Dunia Tak Pernah Tahu Aku Sedih
Kita bisa saja tertawa sepuasnya hari ini dan hancur besok paginya tanpa
sisa sedikit pun, bahkan bisa merasa puas dan penuh pada satu waktu, akan sirna
dan hampa di waktu yang lain. Adakalanya ketika seseorang merasa bahagia, entah
karena menikmati kebersamaan, merayakan pencapaian, atau merasakan
keberhasilan. Namun ada pula waktu ketika kesedihan mampir di saat seseorang
merasakan kehilangan, gagal, kecewa, atau ketika ekspektasi tak berjalan
sebagaimana mestinya. Apa pun bentuknya, setiap perasaan itu selalu nyata, sah,
dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sejuta umat manusia.
Setiap manusia, tanpa terkecuali, dianugerahi perasaan. Perasaan itu
bergerak sebagaimana hidup itu sendiri, tidak menetap, juga tidak tunduk pada
kehendak. Perasaan hadir sebagai denyut yang hidup dalam bentuk bahagia, marah,
bangga, takut, kecewa dan tentu saja “sedih”. Perasaan tidak pernah statis,
perasaan selalu bergerak, beralih dan berubah seiring waktu serta pengalaman.
Dalam kacamata eksistensialisme, perasaan bukan sekadar reaksi biologis, tetapi
penanda bahwa seseorang sedang “ada”. Manusia adalah makhluk yang mengada dan
berada, yang bisa merasakan beragam emosi. Dengan kata lain, setiap manusia
memiliki perasaan, dan perasaan itu tidak pernah tinggal diam, tetapi kerap
berubah mengikuti perjalanan hidup.
Dunia ini kerap kali menempatkan kebahagiaan di singgasana tertinggi, seolah-olah
hanya kebahagiaanlah satu-satunya perasaan yang paling terbaik, paling berguna
dan layak dirayakan. Dalam cara pandang seperti itu, dunia tak pernah
benar-benar tahu kalau aku sedang bersedih. Aku sedih bukan karena kehilangan,
kecewa, ketidaksukaan atau karena penyakit mental. Aku bersedih karena dunia ini
tidak pernah sungguh-sungguh memahami diriku, dengan apa yang aku butuhkan, apa
yang aku harapkan, dan apa yang sesungguhnya aku dambakan. Dunia lupa atau
pura-pura lupa, bahwa kesedihanku mengandung kebenaran atau kerinduan. Dunia
lebih sibuk merayakan tawa daripada mendengar diamku. Sedihku disingkirkan,
disamarkan bahkan diabaikan. Aku hanya bisa tersenyum agar bisa diterima, berdiam
agar tidak merepotkan dunia, walau hati, pikiran, dan perasaan tidak seirama
dengan senyum dan diam yang aku tampilkan di permukaan. Aku hadir di tengah keberadaan
yang tidak pernah memahamiku.
Aku tahu, bahwasanya aku membutuhkan sesuatu. Namun aku tidak pernah mengatakan
kepada dunia ini bahwa aku membutuhkan, bahwa aku sedih. Acap kali dunia
mendengarku, tetapi memilih pura-pura tuli, bahkan dunia melihatku, tetapi memilih
berpura-pura buta. Aku sering kali hadir, tapi tak diperhitungkan. Aku
berbicara, tapi tak direspon. Pada akhirnya, dunia bersikap acuh tak acuh
terhadap kehadiran dan keberadaanku, seolah-olah eksistensiku hanyalah gangguan
kecil dalam hiruk-pikuknya dan kesedihanku menemukan bentuknya yang paling
sunyi, ketika aku ada, dunia tidak mengakui bahwa aku ada, keberadaanku tak
benar-benar berarti.
Aku sedih karena keterasingan di tengah dunia yang terlalu riuh
merayakan kebahagiaan. Kesedihanku sebagai entitas yang tidak terlihat, tidak
terdengar, perasaan hadir tanpa diakui, serta sering kali tidak dianggap sah
dan nyata. Semakin dunia gemar memamerkan canda dan tawa, semakin sunyi ruang
bagi sedih yang bisa tulus, ikhlas dan jujur. Kesedihan yang sulit dipahami,
sunyi dan dalam. Karena sulit untuk menjelaskan kesedihan, apalagi disembuhkan.
Kesedihan yang lahir dari hubungan yang timpang antara aku dan dunia: aku
berharap dimengerti, sementara dunia terlalu sibuk menuntut penyesuaian.
Aku tidak berspekulasi memaknai kesedihan sebagai gangguan psikologis, tetapi
sebagai bentuk kesadaran diri. Kesedihan ini hadir karena jarak antara manusia
dan dunia, antara apa yang dirasakan, dirindukan, diinginkan dan diharapkan
dunia darinya. Kesedihan menjadi tanda bahwa seseorang masih peka, masih hidup
secara batiniah, dan masih berani merasakan. Dunia yang kerap kali memuja
kebahagiaan sebagai standar keberhasilan hidup. Kebahagiaan diperlakukan
sebagai ukuran dari nilai seseorang: barangsiapa yang bahagia dianggap
berhasil, barangsiapa yang sedih dianggap bermasalah. Sering kali kesedihan selalu
tersingkir dan dipaksa untuk bersembunyi di ruang-ruang privat. Dunia tidak
benar-benar ingin tahu mengapa seseorang bisa sedih; dunia hanya ingin
memastikan bahwa kesedihan itu tidak mengganggu ritme kolektifnya.
Pada akhirnya, aku memahami bahwasanya pencarian jati diri bukanlah
perjalanan untuk menemukan kebahagiaan semata, melainkan keberanian untuk
berdamai dengan kesedihan yang tak pernah dunia tanyakan. Dunia mungkin sibuk,
bising dan penuh dengan tuntutan, hingga tak pernah menyediakan ruang bagi
sunyi yang aku genggam. Dalam keriuhan itu, aku hadir tetapi sering kali tidak
benar-benar dilihat. Kesedihan yang aku rasakan bukan emosi sesaat, melainkan
tanda bahwa aku masih peka terhadap hidup ini. Sedihku lahir dari
ketidakpahaman, dari harapan yang tak sepenuhnya terjawab, dari keinginan untuk
dimengerti sebagai manusia seutuhnya. Dunia ini boleh saja tak tahu aku sedih,
atau memilih bungkam, tetapi kesedihan itu nyata dan selalu menjadi bagian dari
prosesku memahami diri.
Sang Khalik kerap mengirimkan seseorang beserta dunianya, bukan untuk
dimiliki, dihargai, dipeluk atau disayang dengan segenap jiwa dan akal budi.
Kehadiran mereka juga bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai perumpamaan
dan pelajaran bagi hati. Melalui kesedihan yang kita alami, kita perlahan
memahami makna hidup yang sesungguhnya bahwa eksistensi kita tidak hanya
tentang memiliki dunia atau seseorang, tetapi tentang menata diri agar tetap
teguh menunggu yang terbaik, paling baik, dan yang pasti, serta setia menjalani
apa yang telah menjadi takdir kita. Sang Khalik tidak pernah meminta insan untuk
menjadi sempurna, apalagi congkak. Sebab kesedihan dan kebahagiaan yang kita
alami hanyalah serpihan kecil dari kebesaran-Nya.
Ketika dunia mengabaikanku, aku berkata “Aku cukup”, begitulah kesedihanku berbicara di ruang kosong, di
antara baris-baris kesabaran yang perlahan aku susun. Hati ini mulai memenuhi
tempat-tempat teduh, menjadi bekal untuk beranjak dari ruang yang semula hanya
terasa hampa. Segalanya kini teramu di depan mata, berisi anyaman-anyaman
perjalanan panjang dalam ikhtiar pencarian ketenangan. Selama masih ada segelintir
cinta yang mengisi ruang-ruang kosong dalam kalbu kecilku, aku percaya bahwa kehidupan
meski tak selalu dipahami, akan menemukan caranya sendiri untuk tetap dijalani.
Bukan karena dunia akhirnya memahami; dunia barangkali tak pernah tahu aku
sedih. Tetapi karena aku mulai menerima diriku apa adanya, dan itu sudah cukup
untuk membuatku tetap ada. Hidup ini, sejatinya seperti mengulang sebuah mata
pelajaran. Jika belum menguasai, jika belum mampu bersedih, jika belum mampu
bahagia, teruslah belajar menjalaninya hingga bebas dari remedi. Hingga suatu
hari nanti bibir kita sendiri yang mengecap dan berkata, “Aku sudah cukup sedih, atau aku sudah cukup bahagia”.
Di balik syair-syair indah yang terdengar sunyi. Kesedihan tidak
diposisikan sebagai akhir, melainkan sebagai sebuah ruang perenungan. Kesedihan
mengajak manusia untuk bertanya ulang: apakah kebahagiaan memang satu-satunya
tujuan hidup? Atau justru kejujuran terhadap perasaan termasuk kesedihan adalah
bentuk keberanian yang lebih manusiawi? Realita ini adalah cermin bagi siapa
pun yang merasa sendirian di tengah kebisingan dunia. Hal ini mengingatkan kita
bahwa tidak semua sedih perlu dipamerkan, tetapi sedih-sedih itu layak diakui.
Dunia mungkin tidak tahu, tidak mendengar, dan tidak peduli. Namun kesedihan
yang disadari dan dimaknai justru dapat menjadi jalan sunyi menuju pemahaman
diri yang lebih dalam, dan barangkali menuju kebijaksanaan.

Komentar
Posting Komentar