Boleh Aku Pinjam Kata?

Ada sebuah pertanyaan bersahaja yang barangkali tidak pernah kita sadari betapa panjang riwayatnya dalam hidup kita. Dari manakah pertama kali kata-kata kita berasal? Kata untuk berdoa, kata untuk bersyukur, bahkan kata untuk menyebut sesuatu, atau kata-kata yang kelak kita baca dan ucapkan. Kita sering mengira bahwa kata-kata itu milik kita sepenuhnya, yang lahir dari lidah dan pikiran kita sendiri. Padahal, sebelum menjadi milik kita, kata-kata itu pernah dipinjam: dari orang tua, dari kitab suci, dari pengalaman hidup kita, dari cerita kehidupan orang lain, dari sesuatu yang lain atau dari peristiwa-peristiwa yang membentuk keberadaan kita.

Boleh Aku Pinjam Kata? Bukan hanya tentang sebuah pertanyaan masa kecilku, melainkan gema dari sebuah perjalanan panjang tentang bagaimana aku mengenal dunia melalui kata. Kata-kata yang pertama kali aku pinjam bukan berasal dari buku-buku tebal atau ruang kelas, tetapi dari doa-doa sederhana yang diucapkan berulang-ulang di atas meja makan rumah kami. Mungkin bagi sebagian orang, meja makan hanyalah benda biasa, bahkan kerap dinilai sepele dan sesuatu yang tak berpengalaman. Tetapi justru dari meja makan yang kerap dipandang sebelah mata itulah aku belajar bahwa kata bukan hanya rangkaian huruf. Kata adalah jembatan antara manusia dan Tuhan, antara pikiran dan perasan, antara hati dan akal budi, antara jiwa dan batin, antara pengalaman hidup dan makna yang perlahan tumbuh.

Aku masih ingat dengan jelas pertama kali belajar membaca, jauh sebelum aku menjejakkan kaki di bangku SD. Sejak kecil, ayah memiliki kebiasaan sederhana namun bermakna, ayah selalu mengajari kami cara berdoa di meja makan. Ada dua doa yang kami hafal di luar kepala, yaitu ‘Doa Makan dan Doa Bapa Kami’. Kami menghafal doa-doa itu bukan karena paksaan, melainkan karena diulang setiap hari dalam ritme kehidupan keluarga. ‘Doa Bapa Kami’ kerap merangkap tugas sebagai doa makan. Namun, secara spesifik dan lebih sering sebelum menyantap makanan, salah satu dari kami akan diminta memimpin ‘Doa Makan’ dengan kalimat yang sangat singkat, nyaris tanpa hiasan kata: “Ya, mohon berkat-Mu ini. Amin”.

Barangkali itu adalah doa pertama dan tersingkat yang diajarkan ayah di meja makan, yang kerap aku panjatkan sepanjang hidupku. Namun justru dari kesederhanaan itulah aku belajar makna yang dalam. Ayah tidak mengajarkan doa sebagai rangkaian kata yang panjang dan rumit, apalagi untuk menjadikan kami sebagai pendoa yang terdengar hebat. Ayah mengajarkan doa agar kami belajar bersyukur, berterima kasih, dan membangun relasi dengan Tuhan sedekat mungkin – seperti doa yang singkat, padat dan jelas. Doa bagi ayah, adalah sikap hati dalam merespon, memohon dan juga bersyukur kepada Tuhan atas segala berkat dan rahmat-Nya. Doa sederhana itu menjadi bagian penting dalam masa pertumbuhanku, menanamkan kesadaran bahwa setiap hal kecil dalam hidup, termasuk makanan di atas meja adalah anugerah yang patut disyukuri. Dan di meja makan itulah pertama kalinya aku meminjam kata-kata iman. Hafalan doa-doa itu tertanam kuat dalam ingatanku lebih kuat dari kemampuan membacaku.

Ketika aku masuk kelas satu SD, aku benar-benar belum bisa membaca. Aku baru sebatas mengenal huruf, mengeja suku kata, perlahan menyusun bunyi menjadi kata. Setelah naik kelas dua aku mulai perlahan mengeja kata demi kata, hingga akhirnya aku mampu mengenali kalimat secara utuh. Suatu hari, di sekolah, aku melihat seorang kakak kelas duduk dan sedang membaca Alkitab Perjanjian Baru berukuran kecil. Ia tampak begitu asyik, tenggelam dalam bacaannya. Pemandangan itu menarik perhatianku. Aku pun menghampirinya dan berkata, “Asyik sekali kakak membacanya”. Kakak itu tersenyum lalu menjawab, “Iya, aku sedang membaca Alkitab”. Ia kemudian bertanya, “Emangnya, kamu bisa membaca?” Dengan segenggam keberanian yang entah datang dari mana, aku menjawab, “Aku bisa. Boleh aku pinjam Alkitab?”.

Padahal, sebenarnya aku belum sepenuhnya bisa membaca. Aku hanya tahu huruf dan bisa mengeja. Namun aku memberanikan diri. Itulah pertama kalinya aku memegang dan membuka Alkitab. Satu hal yang paling membekas dan aku ingat dari momen itu adalah “Doa Bapa Kami” yang diajarkan ayah, sebagaimana tertulis dalam Injil Matius 6:9-13. Karena aku telah hafal doanya, aku berusaha menyesuaikan hafalan dengan kata-kata yang aku lihat. Ajaibnya, kata demi kata terasa akrab, aku mengenal huruf-hurufnya dan mampu mengeja, aku perlahan mulai membaca. Kalimat demi kalimat terasa seperti pulang ke rumah. Tanpa aku sadari, aku benar-benar sedang membaca. Aku memahami setiap kata dan kalimat dalam ‘Doa Bapak Kami’. Kakak kelas itu pun tampak terheran-heran melihatku. Karena belum puas, aku mencoba membaca ayat lain yang aku tidak hafal. Ternyata aku bisa. Saat itulah aku sadar, atau mungkin lebih tepatnya, aku merasakan bahwa sudah bisa membaca.

Rasa senang itu sangat sulit aku jelaskan. Sepulang sekolah, aku bergegas pulang untuk segera memberitahu ayah bahwa aku sudah bisa membaca. Setibanya di rumah, aku menceritakan dengan semangat yang berkobar-kobar semua yang aku telah baca hari itu. Aku bahkan mengambil Alkitab dan membacanya di hadapan ayah. Ia hanya tersenyum bahagia. Senyum yang tidak riuh, tetapi sarat makna. Sementara aku sendiri diliputi kegirangan yang meluap. Aku berlarian ke sana kemari sembari berteriak, “Aku bisa, aku bisa”, hingga tubuh mungilku bermandikan keringat yang mengucur deras, seolah seluruh sukacita hari itu tak mampu lagi ditampung oleh diam.

Namun menariknya, setelah aku merasa benar-benar bisa membaca, ketertarikanku pada buku ternyata tidak serta merta tumbuh, aku justru tidak tumbuh menjadi pembaca yang rakus buku. Selama masa sekolah, aku memang kerap membaca buku tetapi jarang menuntaskan satu buku hingga halaman terakhir. Aku lebih sering hanya membacanya sekilas: menatap sampul, membaca sinopsis, menyimak pendahuluan, lalu menutup bukunya kembali. Seolah-olah aku cukup mengenal sebuah buku tanpa perlu menyelaminya lebih jauh.

Di tengah ketidakakrabanku dengan dunia membaca, aku justru menemukan pelabuhan lain yang sunyi namun setia, yaitu dunia menulis. Sejak duduk di bangku SMP, aku telah membeli sebuah buku harian. Aku selalu menyisihkan waktu untuk menulis, merekam kisah-kisah kecil, menuliskan fragmen perasaan, merangkai harapan, atau sekadar memahat kata-kata indah versiku yang aku pahat sendiri di dalam buku harian tersebut. Huruf dan kata-kata itu mungkin terasa canggung dan belum rapi, tetapi di sanalah tempat aku belajar jujur pada diri sendiri. Menulis menjadi ruang ruang sunyi tempat aku berdialog dengan batin, tanpa tuntutan pembaca atau tanpa ambisi pengakuan. Memasuki masa SMA, kegemaran itu perlahan menemukan bentuk yang lebih matang. Aku mulai menuliskan perjalanan hidupku sejak masa kanak-kanak: tentang kelahiran, pertumbuhan, hingga proses pendewasaan diri. Setiap tulisan adalah pengembaraan batin dan intelektual, sebuah upaya memahami diri dan dunia di sekitarku. Dari sanalah, tanpa disadari, langkah-langkah kecil itu kelak membawaku malang melintang dalam ekosistem literasi, menjadikan giat menulis bukan sekadar kebiasaan, melainkan jalan pulang yang selalu aku tempuh.

Kebiasaan itu berlanjut hingga aku memasuki dunia kampus, belum banyak yang berubah. Pada semester pertama, ketertarikan untuk membaca buku secara utuh masih belum tumbuh. Aku tetap membaca, tetapi jarang sampai selesai. Istilahnya, aku masih menjadi pembaca yang setengah jalan membuka buku, menyapanya sebentar, lalu aku meninggalkannya sebelum bisa benar-benar mengenalnya. Hingga memasuki semester kedua, ada sebuah momen sederhana yang mengubah segalanya, terutama hubunganku dengan buku. Suatu hari, pandanganku tertuju pada sebuah buku berjudul “Cinta Rahasia Kekuatan Hidup”, karya Ir. Jarot Wijanarko tergeletak di belakang rumah, tepat di atas sebuah rice box. Awalnya aku tak menggubris dan mengabaikannya. Seperti kebiasaan banyak orang, aku menilai buku dari sampul da judulnya. Lagi pula, aku tidak terlalu tertarik pada buku-buku bertema cinta, meskipun aku belum pernah membuka dan membaca sisinya.

Beberapa minggu kemudian, saat aku santuy di depan rumah, buku yang sama tiba-tiba tergeletak di atas meja. Entah siapa yang membacanya dan meletakkannya di sana. Keberadaannya kali ini mengusik rasa penasaranku. Aku bertanya dalam hati: sebenarnya apa isi buku ini? Mengapa buku ini seolah berpindah tempat dan kembali menampakkan diri? Dengan sedikit rasa enggan, aku akhirnya membukanya. Sejak membuka halaman pertama, aku merasa seperti sedang membuka dunia seseorang, dunia yang kelak menginspirasiku dan secara perlahan mengubah cara pandangku terhadap membaca. Dari buku itu aku belajar bahwa menilai sesuatu hanya dari tampilan luar sering kali menyesatkan. Apa yang terlihat sederhana atau biasa saja di mata kita, belum tentu demikian di kedalaman maknanya.

Jarot menulis banyak refleksi tentang firman Tuhan, kisah pelayanan, perjalanan hidup, serta pengalamannya membangun karir di dunia korporasi lengkap dengan perjuangan yang dilaluinya. Namun, ada satu hal yang membuatku terpukau adalah disiplinnya dalam menyisihkan waktu untuk tetap menulis di tengah kesibukannya. Tulisan-tulisannya tidak lahir dari teori semata, tetapi dari refleksi iman, interpretasi, pengalaman pelayanan dan pergulatan hidup yang diolah dengan jujur. Jarot tidak menempatkan dirinya sebagai pengajar yang menggurui, tetapi seorang peziarah yang bercerita, bersaksi, dan meminjamkan kata-katanya untuk untuk mengajak pembaca merenung dan tanpa disadari merasa terberkati melalui kata-kata yang mengalir dengan bahasa yang lugas, dan sangat mudah untuk dipahami.

Dari pengalaman sederhana membaca buku itulah, ketertarikanku pada membaca perlahan tumbuh dan mengakar. Buku-buku tidak lagi menjadi sekadar benda yang bisa dibuka lalu ditutup kembali, tetapi ruang dialog yang ingin aku sambangi sampai tuntas. Membaca pun kini sudah tidak lagi hanya menjadi sebuah aktivitas intelektual atau sebagai cara mengisi waktu luang, tetapi lebih daripada itu adalah sebuah perjumpaan dengan pikiran orang lain, dengan pengalaman hidup yang berbeda, dan pada akhirnya, perjumpaan batin dengan diri sendiri.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bisa membaca buku sampai selesai. Bahkan aku membacanya berulang kali. Sejak saat itu, semester-semester berikutnya selama masa perkuliahan, aku jatuh cinta pada membaca dan aku selalu menyisihkan sebagian uangku untuk membeli buku. Aku pun menetapkan sebuah resolusi pribadi, sekaligus komitmen yang aku tanamkan dalam diriku sendiri. Bahwa setiap buku yang aku beli merupakan tanggung jawabku, untuk wajib membacanya sampai selesai. Jika tidak, aku merasa rugi dan menyia-nyiakan uang. Padahal, jika tidak ingin membaca, uang tersebut bisa membeli hal-hal lain yang bermanfaat. Karena membeli pengetahuan dalam buku itu yang sebenarnya harganya mahal, tetapi membaca ilmu itu gratis.

Setiap kata yang aku baca dan tulis sesungguhnya adalah hasil pinjaman. Aku meminjam dari ayah, dari doa-doa sederhana, dari buku-buku, dari pengalaman hidup, dan dari segala sesuatu yang pernah singgah dalam perjalananku. Kata-kata itu tidak lahir begitu saja dari diriku, melainkan diwariskan, dipelajari dan dihidupi. Barangkali, suatu hari nanti, kata-kata yang pernah aku pinjam berpindah tangan, dipinjam oleh orang lain, atau dibaca oleh generasi setelahku.

Ketika hari ini aku bertanya, “Boleh Aku Pinjam Kata?”  Sesungguhnya itu adalah sebuah pengakuan yang jujur, bahwa kehidupan di persada ini, bukan hanya dibangun dari suara-suara yang riuh, melainkan juga dari kata-kata yang lahir, hidup dan saling diwariskan. Kata-kata itu membawa berbagai makna yang terus berkelindan lintas waktu dan generasi. Tugas kita sekarang bukan hanya meminjam kata-kata itu, tetapi menghidupkannya, merawat maknanya, menanamkan iman di dalamnya, dan menyalakan harapan melaluinya. Agar kelak, ketika kata-kata itu berpindah tangan, tidak datang sebagai bunyi yang hampa, tetapi sebagai warisan yang bernyawa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Agama Tidak Relevan Bagi Manusia

Luka Tak Lahir dari Huruf

Menulis Untuk Pertama Kali