Menulis Untuk Bertahan
Aku tidak menulis untuk terlihat pintar, apalagi agar orang lain bisa bilang kamu hebat. Aku juga tidak menulis demi tepuk tangan, thumbs up, atau pujian seperti, “Kamu berbakat”. Pujian seperti itu tak pernah sampai padaku, bahkan aku sama sekali tidak mengharapkan pujian semacam itu. Bagiku, pujian itu terdengar seperti ejekan atau hinaan, karena menulis bukanlah sesuatu yang lahir dari kebutuhan akan pengakuan orang lain. Aku menulis hanya karena kemauan sendiri. Dari kesadaran untuk membangun kehidupan yang benar-benar kreatif dan tidak bergantung pada siapa pun di luar diriku. Aku menulis bukan untuk membuat orang-orang terkesan, bukan juga agar didengar atau dipuja. Aku menulis untuk bertahan hidup, satu pikiran demi satu pikiran. Ambisiku sederhana tapi jujur, menulis adalah caraku bernapas ketika hidup terasa sesak.
Aku menulis karena ada sesuatu dalam diriku yang remuk redam, hancur
dengan cara yang sunyi dan nyaris tak terlihat. Ada tekanan yang tidak memiliki
nama, perasaan yang tidak mampu aku ucapkan selain lewat kata-kata. Terkadang
aku tidak bisa menangis, bukan karena aku tidak merasakan apa-apa, tetapi
karena melankolis itu terlalu abstrak, terlalu lama menetap, dan terlalu
berlapis untuk tumpah sebagai air mata. Aku menulis dan mencurahkan isi hatiku
dalam bahasa yang akhirnya bisa dipahami oleh hatiku sendiri. Kata demi kata aku
susun, dan ketika kata-kata itu saling menyatu, aku menemukan kembali mozaik-mozaik
diriku yang telah hancur dan berserakan, merangkainya kembali agar aku bisa
menjadi utuh dan tetap bertahan.
Meskipun tulisanku tidak rapi dan jauh dari kata indah, tetapi tetap
jujur, dan barangkali kejujuran itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak berusaha
menjadi sempurna; aku hanya berusaha untuk tidak menghilang. Aku menulis karena
jika tidak, beban hidup ini akan terasa terlalu berat dan tidak tertahankan.
Ada banyak hal yang belum sanggup aku ucapkan dengan lantang, bukan karena
tidak ada yang mengerti, melainkan karena aku harus tetap terlihat biasa, yang
penting aku bisa bertahan. Maka aku menuliskan hal-hal yang tidak boleh aku
ucapkan di ruang tamu atau rumah orang. Aku menulis nostalgia yang telah lama
terkubur, luka-luka yang tertutup dengan dalil-dalil yang dipaksakan, serta
harapan-harapan yang terus berusaha keluar mencari cahaya.
Menulis mengajariku satu hal penting tentang eksistensi: bahwa hidup
tidak pernah hadir dalam dua warna yang tegas. Hidup adalah gradasi, ada terang
dan gelap, ada lembut dan keras, ada luka dan keindahan yang tumbuh dari luka
itu sendiri. Di antara riuh dan sepi, hampa dan ragu, menulis menjadi tempatku
bertahan dan berteduh, sebuah ruang yang aman untuk berbicara dan berterus
terang tanpa takut dihakimi. Dengan menulis, aku belajar membaca diriku
sendiri: kapan harus kuat, kapan boleh hancur, dan kapan harus berani menjadi pribadi
yang baru.
Menulis membuatku sadar bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup dalam
satu pilihan yang kaku. Hidup adalah petualangan panjang yang penuh lapisan,
dan tulisan-tulisanku menjadi sebuah jejak langkah pertahanan di dalamnya.
Tulisan-tulisan itulah yang terus menggerakkanku, bukan semata tentang apa yang
selama ini aku dambakan. Lewat kata-kata, aku mencoba melewati hidup, mengisi
dahaga dan keinginan, merawat resiliensi sebagai sumber inspirasi. Perjalanan
ini masih panjang, dan aku memilih untuk terus menuliskannya, selangkah demi
selangkah.
Menulis adalah proses memahami hidup. Menulis memberi ruang untuk
menerima semua itu tanpa penolakan. Dalam tulisan, aku bisa menjadi lemah tanpa
merasa kalah, dan bisa kuat tanpa harus berpura-pura. Di tengah riuhnya dunia
yang kerap terasa sunyi, menulis menjadi tempatku berteduh. Menulis menjadi
dialog pribadi antara aku dan hatiku. Menulis adalah ruang di mana aku boleh
jujur, boleh lemah dan boleh menangis tanpa disakiti oleh siapa pun. Kadang aku
menulis untuk menenangkan pikiran, kadang pula untuk menyembuhkan luka, dan
sering kali untuk menasihati diri sendiri agar tidak mudah menyerah. Menulis juga
mengajarkanku arti kesabaran, bahwa tidak semua ekspektasi harus segera
terwujud. Sebagian perlu dituliskan terlebih dahulu, disimpan di antara
lembar-lembar waktu, lalu suatu hari akan kembali di saat yang paling tepat,
seperti kalimat yang aku tulis delapan tahun lalu yang kini kembali mampir
menemukanku.
Menulis adalah satu-satunya tempat di mana aku tidak perlu berbohong
tentang seluruh realitas hidupku. Di atas kertas, aku tidak berusaha membuat
rasa sakit terlihat mudah diterima. Aku tidak dituntut untuk masuk akal; aku
bisa berteriak lewat metafora, berdarah lewat tanda baca, dan mengaku lewat
elipsis. Tidak ada seorang pun yang akan menggangguku. Tidak ada yang akan salah
interpretasikan keheninganku. Itulah alasan mengapa aku lupa cara meminta
bantuan tanpa meminta maaf terlebih dahulu. Seolah-olah halaman ini adalah
satu-satunya tempat yang tidak akan pernah meninggalkanku, dan barangkali
memang demikian. Sebab ketika orang-orang menghilang, ketika harapan menipis,
ketika semesta bungkam, halaman ini tetap mendengarkan.
Aku terus berusaha belajar bertahan dari kata dan waktu. Menulis adalah
cara terbaik untuk bertahan menata kehidupan, memperbaiki diri, dan memahami
perjalanan waktu. Di setiap kalimat yang aku tuliskan, ada pelajaran hidup yang
tersembunyi. Kadang aku gagal dan harus mengulang, tetapi dari situlah aku bertahan
memahami bab-bab yang lebih sulit dari sebelumnya. Hidup ini seperti buku harian
yang belum selesai ditulis. Setiap hari adalah halaman baru yang menunggu
ditulis. Ada hari-hari bahagia yang tertulis dengan tinta cerah, dan ada pula
hari-hari duka yang tertulis dengan air mata. Keduanya tetap berharga,
karena tanpa keduanya, cerita hidup tidak akan utuh. Dan mungkin, suatu hari
nanti, ketika aku membuka kembali buku-bukuku di masa tua, aku akan membaca semua
tulisanku yang lama, tersenyum, lalu berkata dengan tenang: "Sampai sejauh ini, mungkin ini yang
paling jauh, yaitu aku bisa bertahan”.

Komentar
Posting Komentar