Lama Tak Mendengar Suaramu, Semestaku
Ada sebuah masa ketika manusia merasa
tidak lagi mendengar suara semestanya. Bukan karena semestanya berhenti
berbicara, melainkan karena kesadaran manusia tidak lagi mampu untuk menangkap
bahasa yang terlalu halus. Dalam kebisingan dunia dan hiruk-pikuk pencarian
makna, suara yang paling mendasar justru tenggelam: sebuah suara yang
menghubungkan manusia dengan asal-usulnya. Kini aku menyebutnya “Semestaku”, bukan sebagai ruang kosmik
belaka, tetapi sebagai kesatuan antara keberadaan, kesadaran dan keheningan.
Semesta kerap memaksa manusia untuk berdiam.
Ketika hujan perlahan membasahi bumi, angin menderu seolah ingin terus bermain,
ombak berderu menyapa bibir pantai; ketika suara dahsyat dari peristiwa-peristiwa
besar hadir sebagai penanda, gemuruh gunung berapi, petir dan guntur yang
memberi alarm, gempa yang membuat bumi seakan membalikkan tubuhnya, longsor
yang berselancar dari pegunungan, aliran deras sungai dan air terjun yang
melompat pulang ke laut dengan suara nyaring, pecahnya gletser yang seolah
ingin berenang menuju samudra, dedaunan yang tak henti menari, hingga Skyquake yang misterius. Pada saat
itulah aku akan berkata: “Lama tak
mendengar suaramu, semestaku”, itu bukan keluhan, melainkan pengakuan
eksistensial. Sebuah kesadaran bahwasanya jarak tidak selalu berarti
perpisahan, dan sunyi tidak selalu ketiadaan. Justru dalam keheningan itulah,
manusia selalu diuji, apakah bisa mampu mendengar tanpa suara, melihat tanpa
cahaya, dan percaya tanpa kepastian.
Dalam nuansa waktu yang panjang dan
hening, di tengah kerinduan yang telah menjadi pusat gravitasi makna hidup. Terjadi
benturan antara sunyi dan kenangan, dengan kesedihan yang lembut namun
berwibawa, seperti seseorang yang berdiri di tengah hujan, menatap langit, lalu
berkata dengan perlahan dan tenang, “Lama
tak tak mendengar suaramu, semestaku”, sembari berharap semesta
mengembalikan gema yang dahulu pernah menyapa jiwanya. Sepintas, kalimat itu
seperti doa yang terlempar ke ruang luas yang tak terbatas; sebuah pencarian
akan makna sejati, keajaiban, dan kehadiran yang sempat sirna dari orbit hidup
manusia.
Aku merindukan suaramu sebagaimana
sediakala, ketika angin membawakan bisikan, dan hujan membawakan berkat. Setiap
hari yang aku lalui tanpa menyapamu menghadirkan kehilangan yang tidak
sederhana; kehilangan yang tidak bisa ditangisi, hanya bisa dirasakan dalam
diam yang panjang dan abadi. Barangkali begitulah cara takdir berbicara bahwa
rindu yang paling terdalam bukanlah rindu kepada sosok, melainkan rindu akan
keseimbangan alam semesta di dalam diri. Dan engkaulah semestaku, suara yang
selalu menjadikan dunia ini terasa hidup.
Suara semestaku yang alami adalah hal
yang paling berharga yang tak tergantikan. Suaramu bukan hanya bunyi, melainkan
denyut hidup yang menghidupi kesadaran. Suaramu adalah harmoni antara jiwa dan
alam, antara yang fana dan abadi. Ketika suara itu lenyap, semesta di dalam
diriku pun kehilangan orbitnya. Keheningan tidak selamanya menjadi musuh,
tetapi cermin tempat jiwa kita bercakap dengan kehilangan. Bahwa tak mendengar
suara semesta bukan berarti lupa, dan tak lagi bersuara bukan berarti tiada.
Dalam diam, segala yang abadi justru tumbuh, menembus batas antara raga dan
makna. Suara semesta yang sejati tidak selalu terdengar; semesta hadir dalam
keteraturan hukum alam, dalam siklus lahir dan runtuh, dalam jarak yang
diciptakan bukan untuk memisahkan, melainkan untuk menguji kesadaran.
Selama semesta masih bernapas, selama
satu denyut kecil menggerakkan waktu, aku tahu suara itu tidak pernah
benar-benar hilang. Suara itu hanya berpindah tempat, dari bunyi menjadi makna,
dari gema menjadi kesadaran. Semesta tidak berbicara dengan bahasa manusia, namun
semesta berbicara dengan keteraturan, perubahan, dan keterbatasan. Di dalam
eksistensinya, justru keterbatasan itulah yang membentuk kesadaran. Tanpa
kehilangan, manusia tidak pernah benar-benar mengerti apa itu arti memiliki.
Dalam kehadiran suara semesta, denyut kehidupan melahirkan jutaan pengalaman.
Meredam tangis tanpa menjanjikan kebahagiaan yang abadi, menyembuhkan kerapuhan
tanpa menghapus luka-luka sepenuhnya. Rindu bukan sekadar emosional, melainkan
ontologis, kerinduan akan keterhubungan dengan asal-mula.
Manusia sering keliru dan mengira
semesta yang paling diinginkan adalah semesta yang paling cepat dan tepat.
Padahal, semesta bekerja bukan untuk memuaskan keinginan, melainkan untuk
menumbuhkan pemahaman. Matahari yang tak terbit bukan penolakan terhadap
terang, melainkan penundaan agar manusia belajar bersabar. Hujan yang belum
turun bukan penyangkalan doa, melainkan proses agar kehidupan siap menerima.
Bulan yang redup bukan kehilangan cahaya, melainkan jeda agar manusia belajar merindukan.
Semesta yang bergemuruh bukanlah kemarahan, melainkan koreksi agar keseimbangan
kembali terjaga.
Semesta tidak pernah menunda keberadaan
dan kehadirannya dengan keteraturan dan kepastian. Semesta tidak ditempatkan
sebagai sesuatu yang jauh dan asing, melainkan sebagai bagian dari diri, ruang
batin tempat manusia merasa terhubung dengan kehidupan, makna dan asal-usulnya.
Suara semesta adalah petunjuk, isyarat, dan panggilan yang hadir memberi makna.
Tidak mendengar berarti tidak lagi peka, bukan karena suara itu berhenti ada,
tetapi karena manusia sajalah yang berhenti menyimak.
Manusia yang sering kali terasing bukan
dari semesta, melainkan dari dirinya sendiri. Dalam kesibukannya, rutinitasnya,
dari tuntutan hidup, manusia kerap kehilangan ruang untuk mendengar. Berjalan
terlalu cepat, berbicara terlalu banyak, dan lupa bahwa makna sejati sering
kali hadir dalam keheningan. Momen kesadaran adalah sebuah titik henti untuk
mengakui keterputusan, sekaligus membuka kemungkinan untuk kembali. Mengatakan “Lama tak mendengar suaramu, semestaku”
berarti masih percaya bahwa suara itu ada, sebuah kesediaan untuk kembali
membuka diri terhadap suara yang pernah menghidupkan. Oleh karena itu, idiom ini
tidak menuntut sebuah jawaban, tidak pula menawarkan suatu kepastian. Tetapi
hanya membuka ruang untuk hening, untuk mendengar kembali, dan untuk pulang. Dalam
kesunyiannya, ungkapan ini menjadi pengingat yang lembut bahwa suara yang
paling berharga sering kali tidak pernah benar-benar hilang. Hanya menunggu
kita cukup diam, cukup jujur, dan cukup berani untuk kembali mendengarnya.
Semua yang ada di semesta adalah hiasan
langit dan bumi yang selalu memantapkan mata dan menyuguhkan hati. Mereka
tampaknya indah dan mempesona, seringkali mengerikan tetapi tidak sebanding
dengan suaranya yang senantiasa rindu untuk didengarkan. Dari semesta aku
belajar untuk menerima takdir dan realitas bahwa semesta yang paling kita
inginkan belum tentu semesta yang paling tepat untuk kita genggam selamanya.
Ada kalanya semesta menata jarak untuk memisahkan, membuat rindu untuk
dinantikan, tetapi juga untuk menguji apakah yang benar-benar ingin kita
perjuangkan, pintakan dan rindukan.
Aku selalu merindukan suaramu,
semestaku. Namun kerinduan itu tak bermula dari telinga, melainkan dari
kesediaan untuk hening. Sebab dalam kesunyian itulah, semesta ingin berbicara dengan
jujur. Semesta selalu mengajarkan bahwa hidup ini bukan hanya tentang
menggenggam, melainkan tentang menyadari keterhubungan; bukan tentang
kepastian, tetapi tentang keberanian berjalan dalam ketidakpastian. Setiap kali
aku kembali berbisik, “Lama tak mendengar
suaramu, semestaku”, itu bukan ratapan kehilangan. Itu adalah pengakuan
akan kesadaran yang kembali terjaga. Semesta tidak pernah benar-benar pergi
sejauh mungkin, yang sering menjauh hanyalah manusia dari kesadarannya sendiri.
Dan aku masih setia berada dalam orbitmu, masih ingin terus belajar mengeja
bahasamu yang tidak pernah tertulis, tetapi selalu terasa.
Ketika bumi berhenti berputar, ketika bulan purnama tidak lagi bercahaya, matahari tidak lagi bersinar, ketika ombak enggan menyentuh pantai dan angin lupa bagaimana caranya berbisik, sungai lupa kembali ke hulunya, rerumputan beserta dedaunan lupa caranya menari; ketika langit kehilangan bahasanya, petir tidak lagi berbicara dan guntur lupa mengencangkan suaranya; ketika longsor dan gemuruh alam bawah bumi atau di atas langit lupa jalan pulang, dan hujan tertidur lelap dalam kesunyian langit yang abadi, saat itulah aku akan selalu merindukan suaramu. Selama semesta bernafas tanpa berbicara, suaramu akan tetap abadi dalam setiap detaknya.

Komentar
Posting Komentar