Buku Harian Adalah Duniaku

 

Buku harian bukan hanya sekedar benda yang diam. Buku harian adalah dunia kecil tempat aku selalu bernaung dan hidup, tempat jiwaku beristirahat ketika hidup di luar terlalu bising. Dalam dunia ini, aku menuliskan hal-hal yang tidak bisa aku utarakan pada siapa pun tentang kekecewaan yang aku pendam, harapan yang aku besarkan dengan diam, cinta yang aku peluk erat-erat, dan ketakutan yang hanya berani aku tuliskan. Kadang ada hari ketika aku menulis dengan air mata, kadang juga dengan tawa kecil, dan sering kali dengan hati bergetar karena rindu pada sesuatu yang bahkan aku belum pahami. Buku harian itu selalu bernafas dan menjadi saksi bisu yang setia mendengar dan tidak pernah meninggalkanku, buku harian yang mengetahui kapan aku harus kuat, kapan aku rapuh, kapan aku harus belajar untuk menjadi seseorang yang baru dan utuh.

Menulis dalam buku harian membuat aku merasa hidup dua kali: sesekali dalam kenyataan sebagai manusia yang menjalani hari, dan sesekali lagi sebagai diriku yang menuliskannya. Dalam tulisan inilah aku menemukan diriku yang paling jujur, setia, polos, berani, dan tidak takut luka dan duka, serta berjuang untuk terus menjadi pribadi yang selalu baru dalam dunia ciptaanku.

Buku harian bukan hanya tempat menulis kejadian, kenangan maupun harapan. Buku harian adalah ruang sunyi yang hidup, tempat di mana perasaan bisa berbicara tanpa takut dihakimi. Di dalamnya, aku menulis beragam hal yang tidak bisa aku ucapkan kepada siapa pun tentang mimpi, kekecewaan, kesepian, cinta, bahkan ketakutan. Setiap kali pena menari di atas kertas, aku merasa terbebas. Kata-kata itu menjadi saksi bisu dari perjalanan hidupku, masa remaja yang penuh mimpi, kegelisahan yang tidak terucap, dan harapan yang diam-diam tumbuh di antara luka-luka. Menulis membuatku sadar bahwa setiap manusia punya cara untuk bertahan, dan tulisanku adalah caraku.

Setiap kali aku membuka halaman-halaman lama buku harianku, aku tidak hanya membaca tulisan masa lalu. Tetapi Aku membaca diriku sendiri dengan segala perubahan, pertumbuhan, dan keberanian yang perlahan terbentuk dari kata-kata itu. Buku harian menjadi cahaya kecil yang terus menuntunku ketika dunia lain terasa gelap dan suram. Namun, dunia ciptaanku mengingatkanku bahwa menulis bukan hanya tentang menuangkan isi kepala, akan tetapi tentang menyelamatkan diri dari sepi, dari kehilangan arah, dan dari suara-suara dunia sekitar yang terlalu ramai.

Setiap buku harian memiliki caranya tersendiri dalam menafsirkan tinta, pinta, doa dan cinta. Dalam buku-buku harian yang lain eksistensiku mungkin dilarang; namun dalam buku-buku tertentu eksistensiku mungkin akan dirayakan dengan cara yang unik dan bebas. Setiap halaman senantiasa membentuk caraku merasakan dan mengekspresikan kehidupan, seolah setiap buku harian adalah cermin yang mengajarkanku cara menjadi manusia seutuhnya.

Buku harian adalah duniaku, sebuah ruang yang aman, nyaman, dan personal, tempat aku bisa mencurahkan isi hati, menuliskan pikiran, mimpi, harapan, cinta, dan emosi untuk menciptakan hubungan dan kehidupan yang lebih erat dengan duniaku. Buku harian menjadi jembatan untuk menciptakan hubungan yang lebih erat dekat dengan diriku sendiri. Apa pun yang aku goreskan di dalamnya menawarkan dunia untuk merenung, menginterpretasikan hari-hari, menulis tentang realita dan dinamika, mengungkapkan perasaan, maupun mengabadikan setiap momen terindah dalam hidupku. Dalam setiap langkah hidup, buku harian menjadi teman hidup yang setia di setiap langkah hidup yang aku lalui.

Hidup dengan segala pengalaman baik dan buruknya, meninggalkan napak tilas yang tidak akan pernah sirna. Namun banyak perilaku yang justru merusak diri, kritik berlebihan, sensor diri, hingga konformitas, bukanlah sifat asli manusia, melainkan kebiasaan yang terbentuk seiring waktu. Di sinilah buku harian hadir dan menemukan maknanya, membantu kita terhubung kembali dengan jati diri yang paling murni. Buku harian adalah ruang yang sakral, dunia kecil yang sepenuhnya milik kita, bebas dari mata-mata atau kutu buku, maupun penilaian orang lain. Tidak ada cara yang benar atau salah untuk menggunakannya, dan tidak ada ketakutan akan penghakiman, campur tangan, maupun pengaruh dari orang lain. Sebab buku harian menjadi tempat curhat yang paling jujur, konselor pribadi yang paling setia, sekaligus dunia yang paling aman bagi hati.

Sonia Constant, penulis buku harian sekaligus pendiri blog keluarga MummyConstant, menggunakan bukunya untuk menangkap pikiran dan apa pun yang berputar-putar. Ia mengakui bahwa menulis membantu kesehatan mentalnya: “Jika aku frustrasi, aku menuliskannya. Dan itu membantu mengeluarkan isi hatiku”. Melepaskan pikiran ke atas kertas membantu mengosongkan ruang di otak dan memungkinkan seseorang untuk berkonsentrasi penuh pada sesuatu yang baru. Manfaat kesehatan dari tulisan yang terdokumentasikan bukan hanya diuji, tetapi dipuji. Fisik pena dan kertas menciptakan ritme yang jauh lebih alami dan mengalir bebas dibandingkan alternatifnya, yang memungkinkan pikiran kita tersalurkan langsung ke halaman.

Dalam tulisanku yang bertajuk Tulisanku yang Menginspirasi, aku mengukir kalimat yang menggema jauh ke dalam kalbu kecil: “Menulis adalah obat paling manjur yang menyembuhkan, sedangkan membaca adalah kesehatan dan kebahagiaan yang tiada taranya”. Buku harian adalah perwujudan nyata dari kalimat itu. Apa pun yang kita tulis dan baca kembali akan menuntun kita menemukan makna, menemukan diri, dan memberi kita power resilience. Buku harian adalah sebuah dunia yang akan membuat kita sehat, kuat, berani, bersyukur, maupun rasa untuk memiliki dan mencintai. Di dunia yang sering menyakiti, melukai dan menjengkelkan, bahkan kehidupan kita berkali-kali diuji oleh badai penderitaan, penghinaan, dan pendustaan. Namun, ketika kita kembali ke dunia ciptaan kita sendiri, yakni buku harian, kita akan kembali ke dunia yang bebas, aman dan menjadi manusia yang merdeka dengan segenap hati dan jiwa.

Setiap orang memiliki kisah yang indah, unik, menarik dan layak untuk diceritakan. Hal ini tetap berlaku bagi setiap individu, terlepas dari apakah kita ingin membagikan kisah dengan orang lain atau memilih untuk menyimpan detail sepenuhnya untuk diri sendiri. Apa pun yang ingin kita lakukan dengan kisah kita, meluangkan waktu untuk membaca dan menulis di buku harian menjadi pengalaman yang sungguh mendalam dan manfaatnya akan terus terasa sepanjang hidup. Bahkan ketika sebagian orang mengira tidak ada yang veyeurisme mengintip buku harian, faktanya banyak yang penasaran dan mengintip atau membaca tulisan orang lain yang tidak dikenal. Justru di situlah buku harian menjadi dunia yang terasa hidup karena memberikan dampak yang luar biasa, baik bagi penulisnya maupun bagi barangsiapa yang suatu hari kelak akan membacanya.

Suatu hari nanti, ketika aku menatap halaman terakhir dari buku kehidupanku, aku ingin tersenyum, bukan karena semuanya berjalan sempurna dan sesuai ekspektasi, tetapi karena aku telah menuliskannya dengan tulus, jujur, dan berani. Di antara goresan yang lahir dari tawa, canda, air mata, ketakutan, cinta, dan harapan, aku hanya ingin melihat diriku yang pernah rapuh dan jatuh namun terus bertahan, diriku yang pernah gagal dan tersesat namun selalu mencari cahaya pulang kembali kepada duniaku yang sesungguhnya. Dan pada detik terakhir, sebelum aku menutup kisah hidup, aku ingin bisa berkata dengan khusyuk: “Inilah duniaku, dunia yang penuh dengan misteri, materi, dan teori, namun tetap menjadi rumah tempat aku belajar menjadi manusia”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Agama Tidak Relevan Bagi Manusia

Luka Tak Lahir dari Huruf

Menulis Untuk Pertama Kali