Cinta Beda Buku Harian

Setiap orang menulis kisah cintanya dalam buku harian yang sama. Ada juga yang tentunya menulis di antara halaman yang penuh tawa dan bunga, ada pula yang menorehkannya di lembar yang basah oleh air mata dan rindu yang tidak pernah selesai. Aku pun demikian, monorehkan kisah cintaku di buku harian yang berbeda, aku menulisnya dengan harapan dan kerinduan yang tidak menemukan rumahnya. Bukan karena cinta itu tidak indah, tetapi karena cinta datang di waktu yang tak tepat, menyapa di halaman yang seharusnya bukan untuknya, dan meninggalkan tanda tangan di antara kalimat yang belum sempat aku titikkan.

Cinta yang berbeda ini seperti surat yang terselip di antara dua buku harian, bukan hanya yang menjadi milik masa lalu sepenuhnya, tetapi juga yang belum menjadi milik masa depan. Cinta ini hidup di ruang antara harapan dan keraguan, ingin dan enggan, merindukan dan melupakan. Mungkin di dunia yang lain, cinta ditulis dalam buku harian yang sama. Akan tetapi di dunia yang satu ini, cinta kebetulan bertemu di pinggir kalimat. Namun bukankah cinta tak selalu harus memiliki bab yang sama untuk tetap abadi? Kadang cukup menjadi catatan kaki yang sederhana tetapi tak tergantikan. Karena cinta yang tidak pernah selesai ditulis adalah cinta yang selalu hidup di hati penulisnya. Dan barangkali cinta seperti itulah yang aku sebut: “Cinta Beda Buku Harian”.

Kepadamu, yang pernah menjadi alasan aku menulis banyak halaman. Agaknya lugu, tetapi juga lucu, ketika aku mencoba menuliskan cinta yang aku dambakan dan harapkan. Cinta yang aku ingin memulainya dari buku harian, yang tidak pernah selesai menceritakan kisah tentang seorang dokter. Sebab cinta yang aku tulis di buku harian bukanlah kisah fiksi, melainkan fakta yang tumpah dari lembar-lembar kehidupanku. Aku pernah, dan mungkin masih, mencintai seorang dokter, sosok yang dalam bayanganku selalu tampak tenang, bijak, cerdas dan penuh dengan cinta. Sejak awal, entah mengapa aku menyukai seorang dokter, dan semudah itukah aku bisa jatuh cinta kepadanya? Setiap catatan di buku harianku, selalu ada perasaan dan kerinduan terhadap seorang dokter, serta hasrat untuk menua bersamanya. Buku harianku menjadi saksi yang paling setia dan jujur menemani seluruh perjalanan cintaku, sebuah ruang di mana semua perasaan, harapan, dan kegelisahan cinta kutitipkan tanpa harus merasa tersipu malu untuk mengakuinya.

Aku masih ingat, di antara tinta dan pinta yang mengering di buku harian, tertulis: “jika ada cinta yang ditakdirkan untuk aku memilikinya, aku akan memilih seorang dokter dan ingin menikah dengannya”. Kira-kira seperti itulah aku menuliskannya di salah satu halaman cinta, sebagai sebuah doa, kerinduan dan harapan. Seiring waktu, takdir yang aku tulis di buku harian itu benar-benar terwujud, aku sempat kenalan dengan seorang dokter dan membangun relasi dengannya. Namun hubungan itu tak bertahan lama; pada akhirnya kami lost contact dan berpisah begitu saja. Selepas itu, aku berkelana di halaman-halaman lain, banyak wanita yang hinggap di buku harianku, tetapi mereka bukan berasal dari buku harianku, mereka adalah cinta yang datang dari buku harian lain. Banyak yang mampir dan pergi, tetapi aku tidak pernah mengukir nama mereka di buku harianku.

Cinta seperti biasanya, selalu saja punya cara untuk berbelok. Cinta tidak selalu tumbuh di halaman yang sama atau buku yang sama dengan yang aku tulis. Kadang cinta justru datang dari buku harian lain, dari catatan yang tidak pernah aku bayangkan akan menjadi bagian dari hidupku. Tidak ada yang salah dengan itu, sebab cinta tidak pernah tunduk pada rencana. Cinta akan memilih jalannya sendiri, menembus garis takdir bahkan melintasi batas ekspektasi. Karena itulah Sujiwo Tejo memahat kata-kata yang anggun: “Menikah itu nasib, mencintai itu takdir, kau bisa berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa”. Aku boleh memilih cinta, tetapi takdir yang menentukan kepada siapa cinta sejatiku ini akan bermuara. Aku bisa menulis di buku harian untuk menikah dengan seorang dokter, bahkan memilih untuk tetap mencintainya, akan tetapi kadang nasib dan takdir dalam buku kehidupan kita berkata lain.

Aku tidak sedang menitikberatkan pentingnya buku harianku, tetapi di dalamnya, aku ingin berbagi halaman-halaman lain tentang kehidupan cintaku – kerinduan dan harapan yang mungkin sederhana, doa yang penuh khusyuk, yang semuanya lahir dari hati yang ikhlas dan tulus. Mungkin, di seberang sana, ada seseorang yang membaca separuh kisahku dan memahami sisanya tanpa perlu aku beritahu. Cinta adalah keniscayaan yang bervariasi. Buku harianku mewakili isi kalbuku, menjadi jembatan antara isi hatiku dan semesta yang diam-diam mendengarkan.

Banyak yang akan bertanya mengenai alasanku memilih mencintai seorang dokter. Walau tidak selekas menutup mata kemudian menjadi nyata. Meski banyak desas-desus yang aku dengar. Kebanyakan dokter tidak terlalu tertarik pada kehidupan pribadi atau urusan kencan, hal itu wajar saja mengingat profesi yang mereka pilih. Mereka biasanya lebih memilih untuk menetap pada hal-hal yang menurut mereka paling menarik dan potensial. Simpelnya, jika memiliki pasangan seorang dokter akan memberikan tantangan tersendiri yang cukup berat. Itulah alasannya, mengapa aku menyukai seorang dokter karena tantangan itu. Tantangannya untuk menolong banyak orang membuat cinta mereka tidak hanya untuk kita, tetapi tetap saja mereka membutuhkan cinta; tidak ada satu pun dokter yang tidak membutuhkan cinta, itu mustahil.

Aku tidak terlalu pusing dan tidak peduli dengan pilihan atau kenyamanan mereka. Menurut hematku, tantangan merekalah yang paling penting bagiku: menyesuaikan diri dengan apa yang menjadi pilihan terbaik mereka, dan menjadi bagian dari pilihan terbaik itu. Yang terpenting adalah sama-sama bekerja, melayani, dan menolong banyak orang, sama-sama menebarkan cinta antara twin flame kita berdua, dan juga kepada orang lain, artinya mengasihi sesama kita. Bagaimanapun cintaku pada seorang dokter tidak bisa ditukar atau ditawar dengan apa pun, cintaku pada seorang dokter adalah sebuah dermaga terakhir tempat kapal kehidupanku selalu berharap untuk berlabuh. Hasratku memilih seorang dokter adalah pilihan yang menarik dan terbaik dalam hidupku.

Ketika aku memilih mencintai seseorang dokter dan menuliskannya, bahkan mencintainya. Autentisitas cintaku pada buku harian tidak hanya berasal dari gestur-gestur agung atau pernyataan dramatis, melainkan juga dari momen-momen hening yang penuh dengan pemahaman, perubahan dinamika yang halus, dan terbentuknya keyakinan yang tangguh terhadap seseorang yang ingin aku cintai. Meskipun aku sadar dan tahu, bahwasanya pilihan hidup tidak semudah menulis di atas kertas. Sebelum kisah ini benar-benar berakhir, bisakah aku menemukan dokter yang tertulis dalam buku harianku atau hanya menambah draft panjang penulisan dalam buku harianku dengan orang lain yang sama sekali tidak aku sukai dan membosankan? Buku harianku mencatat banyak harapan, doa, dan kerinduan, tetapi realitas menulis kisahnya sendiri.

Semudah itukah aku jatuh cinta, meskipun banyak cinta yang selalu terbang dan hinggap di buku harianku, akan tetapi aku hanya memberi singgasana yang aman dan nyaman bagi seorang dokter. Aku tahu apa yang menjadi pilihan hidupku, karena perkara rejeki, jodoh, takdir dan maut di tangan Sang Khalik, garis tangan kita ditentukan oleh-Nya. Aku boleh memilih, tetapi hanya Sang Pemilik Cinta Abadi yang akan menetapkan siapa cinta yang pada akhirnya pantas aku akan miliki dan akan menggenggam tanganku sampai akhir. Oleh karena itu, cintaku dalam buku harian adalah privilege yang aku persembahkan hanya untuk seorang dokter. Siapa pun dokter yang akan hinggap di hatiku, aku akan menulisnya; bahkan dokter yang pergi pun tetap akan tertulis namanya. Hingga aku menunggu sampai ada seorang dokter yang hinggap di buku harianku dan menetap untuk selamanya, menjadi cinta abadi, barulah aku akan selesai menulis babnya.

Barangkali aku belum atau nanti pun tidak akan menemukan cinta sesuai dengan ekspektasi buku harian. Aku selalu mempersiapkan diri untuk menulis tentang bagaimana cintaku bisa tetap tampak, seperti senantiasa melihat dan merasakan adegan karakter favorit yang sedang jatuh cinta. Karena menceritakan saja tidak akan menghasilkan bacaan dan tontonan yang bagus, dan itu tidak cukup. Dengan mempertimbangkan karakter yang sedang jatuh cinta, bertindak, bereaksi, berbicara satu sama lain, menyentuh dan sebagainya. Detail-detail halus ini menyampaikan lebih banyak tentang suatu relasi daripada yang bisa disampaikan melalui dialog.

Aku pernah mencintai seorang dokter, dan sedang mencintainya, dan di hari-hari yang akan datang, apakah aku masih bisa mencintainya atau justru akan melupakannya? Meskipun ia pernah menghiasi buku harian atau mungkin tidak akan menghiasi buku harianku lagi, namun cintaku akan tetap utuh dan abadi untuknya. Meski aku pernah bertemu dan berpisah, entah aku tidak akan menemukannya lagi atau suatu hari kembali bersamanya, tetapi cintaku tetap tulus dan utuh untuk seorang dokter. Setiap kali membuka buku harian, aku selalu tersenyum. Aku tidak tahu badai apa yang akan menguji cintaku, buku harianku bukan hanya catatan tentang seorang dokter yang aku memilih untuk mencintainya dan menikahinya, lebih dari itu tentang diriku sendiri, tentang bagaimana aku bisa belajar memahami cinta dalam segala wujudnya dari setiap waktu dan tempat. Cinta mungkin tidak datang seperti yang tertulis, tetapi cinta selalu datang dengan caranya sendiri.

Namun, jika suatu hari nanti, ketika waktu mempertemukan aku dengan seseorang, entah dokter atau bukan, aku akan menuliskannya kembali dengan tenang: “Cinta memang tidak selalu sesuai dengan buku harian, tetapi cinta selalu datang pada waktu yang ditentukan Sang Khalik”. Aku selalu tertawa sendiri, betapa mudah dan polosnya aku ketika menulis impian itu. Aku jatuh cinta pada sosok yang bahkan belum tentu aku miliki, ataupun belum tentu mengenalku. Sebelum kisah ini berakhir, aku hanya berharap, entah suatu hari nanti aku bertemu dengan sosok yang pernah aku tulis di buku harianku, atau aku akan menulis kisah baru bersama seseorang yang sama sekali tidak dikenali dan tidak terduga. Karena cinta, bagaimanapun bentuknya, selalu layak untuk dituliskan. Di saat itulah mungkin buku harianku berubah menjadi “Cinta Sama Buku Harian”.

Setiap buku harian akan menutup halamannya sendiri. Bukan karena cinta yang tertulis di dalamnya telah selesai, tetapi karena waktu yang menghendaki kita untuk berhenti menulis, agar hati ini bisa belajar membaca ulang maknanya. Cinta yang tumbuh dari buku harian yang berbeda, mungkin tidak berakhir di pelukan, tetapi berdiam manis di kenangan yang tidak sirna. Cinta tetap menjadi bab yang tidak bisa dihapus. Meski aku menulis kisah baru dengan pena yang sama, dan tinta yang telah belajar dari harapan, tetapi pinta dan cinta akan tetap utuh selamanya.

Aku tidak lagi menunggu pertemuan yang sempurna, karena sekarang aku telah mengerti, tidak semua cinta harus berjalan berdampingan untuk bisa disebut cinta abadi. Ada cinta yang cukup hidup dalam doa, bernapas dirindu, dan tumbuh di antara jeda-jeda yang hening. Mungkin di kehidupan yang lain, kita akan menulis di halaman yang sama. Aku sekarang menutup catatan ini dengan senyuman kecil, biarlah cintamu dan cintaku tetap kokoh berdiri sendiri, seperti dua buku harian yang saling tahu isinya, namun memilih untuk tidak saling menutupi satu sama lain.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Agama Tidak Relevan Bagi Manusia

Luka Tak Lahir dari Huruf

Menulis Untuk Pertama Kali