Musik Adalah Jembatan Jiwa dan Kehidupan

 

Aku barangkali salah satu orang yang 100% sangat menyukai musik, entah musik Pop, Rock, Jazz, Klasik, Reggae, Hip-Hop, R&B, EDM dan lainnya. Yang penting enak di dengar, bikin nyaman jiwa, menenangkan pikiran, membawaku menjalani hari-hari hidup dengan hahaha juga huhuhu. Kenapa aku menyukai musik 100%? Alasannya cukup mencengangkan, aku tidak bisa menyeruput minuman keras, jika tanpa musik atau lagu yang diputar, kedengaran agak anomali, tetapi itu filosofi hidupku. Sebab itu, jika aku diajak minum oleh orang-orang di sekelilingku, aku selalu mengatakan pepatah yang aku pahat sendiri kepada mereka “Minum tanpa lagu, seperti mencintai tanpa ada hati” kata-kata ini mewakili seluruh jiwa dan kehidupanku yang terus bergelayut dalam irama musik dan bergelantung dalam lirik untuk menemukan ritmenya sendiri.

Musik memiliki energi tersendiri yang selalu hadir dalam diri manusia. Energi tersebut selalu mengisi setiap jiwa, entah saat kita berada dalam situasi sedih, bahagia, susah, suka, duka, senang, sakit atau dalam beragam bentuk ekspresi lainnya. Dalam fikrahku, musik membawa tiga energi utama (Yeng, Vea, Nemen). Pertama, energi Yeng adalah energi yang membangkitkan sukacita, membuat orang tersenyum dan menari ketika mendengar lagu-lagu penuh semangat, seperti party, disko, atau irama perayaan. Kedua, energi Vea adalah energi yang menenangkan, membuat pendengarnya teduh, tidak berlebihan dan tidak terlalu rendah, seperti aliran lembut dari lagu-lagu yang pelan namun pasti menyusup ke dalam hati. Ketiga, energi Nemen adalah energi yang menggiring jiwa ke ruang melankolia, menghadirkan rasa galau, sedih, kecewa, seperti ketika kita tenggelam dalam lagu-lagu yang pilu dan menyayat batin.

Musik adalah bagian dari hidup kita sehari-hari. Tanpanya, hidup ini mungkin akan terasa biasa-biasa saja, tanpa warna dan denyut yang menghidupkan. Lebih jauh lagi, musik bukan hanya penghibur, melainkan penolong dalam masa-masa sulit. Musik bisa menjadi penyemangat ketika hati rapuh, penghibur ketika perasaan diliputi kegelisahan, bahkan penguat saat kebahagiaan meluap terlalu deras. Dengan kata lain, musik adalah obat bagi jiwa yang terluka. Saat hati dipenuhi kesedihan, sebuah lagu menjelma menjadi pelukan yang tidak terlihat. Musik telah menjadi sebuah jembatan untuk menyentuh ruang-ruang terdalam diri kita, membisikkan harapan di kala kata-kata manusia tidak lagi memadai. Musik menjadi doa yang tidak terucap, tangisan yang tidak menetes, sekaligus tawa yang tidak terdengar, dan sebuah bahasa jiwa yang melampaui batas kata.

Musik adalah jembatan antara jiwa dan kehidupan. Musik bukan hanya sekadar rangkaian nada yang tersusun indah, melainkan jembatan universal yang sanggup menembus batas manusia, jembatan yang tak perlu konstruksi bangunan yang kuat, karena langsung dimengerti oleh hati dan di bangun dalam setiap jiwa manusia. Dalam musik, kita menemukan denyut kehidupan yang paling murni, sesuatu yang kerap gagal diungkapkan oleh kata-kata. Hidup tanpa musik memang bisa berjalan, tetapi akan terasa hampa, monoton, dan datar. Musik memberi warna pada kehidupan: menjadi jembatan jiwa untuk dunia di sekitar kita, dengan kicauan burung yang menyambut pagi, gemericik hujan yang menari di jendela, hingga dentingan gitar yang mengiringi senandung sederhana. Semua itu adalah musik yang membangunkan kesadaran, bahwasanya hidup bukanlah sekadar rutinitas, melainkan irama yang terus bergetar dalam diri kita.

Musik adalah anugerah sekaligus karya agung yang diciptakan untuk membangun jiwa, memperkuat spiritualitas, meneguhkan mentalitas untuk mencapai kesejahteraan batin, dan juga menolong manusia dalam menghadapi tantangan hidup. Jembatan jiwa adalah metafora sosial-budaya yang mengajarkan bahwa musik bisa menyatukan perbedaan, menghadirkan kebahagiaan, mengizinkan kita bisa merasakan maupun ketenangan, hingga menumbuhkan kekayaan batin yang amat mendalam. Musik sebagai sebuah dunia perlintasan, jembatan untuk menuju, menemukan, menciptakan, dan merasakan apa yang kita harapkan, inginkan, serta butuhkan. Bahkan musik adalah sarana penghubung yang mempersatukan manusia dengan alam semesta.

Lebih dari itu, musik adalah seni. Ia lahir dari ekspresi perasaan dan pikiran manusia yang diolah menjadi rangkaian bunyi yang harmonis melalui melodi, irama, dan harmoni. Dalam musik, penciptanya menyampaikan perasaan, gagasan, dan emosi, dan kerinduan yang dalam. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan keindahan melalui kombinasi suara, baik vokal maupun instrumental. Tetapi juga menghadirkan getaran yang menyentuh dari pendengar. Lirik-lirik dalam lagu bahkan menjelma menjadi karya sastra, karena mengandung elemen seperti bahasa yang khas, citraan, makna, kekuatan imajinasi, layaknya puisi atau bentuk sastra lainnya. Seorang filsuf Jepang, Daisaku Ikeda, pernah berkat: “Semua karya sastra yang hebat, baik yang klasik maupun modern adalah jembatan yang menghubungkan satu manusia dengan jiwa lain. Kualitas hidup kita ditentukan oleh banyaknya jembatan yang dapat kita lewati”. Ungkapan ini sejatinya juga berlaku bagi musik. Musik adalah jembatan yang memungkinkan kita saling memahami, meski tanpa kata-kata.

Musik juga menyimpan paradoks yang menakjubkan. Dari musik, kita belajar kerendahan hati: bahwa kebisingan tidak selalu tanda kehidupan, dan keheningan pun bisa menjadi melodi yang agung. Dari harmoni musik, kita belajar keseimbangan, antara tinggi dan rendah, cepat dan lambat, harmoni dan disonansi. Begitulah hidup, penuh kontras, namun justru di situlah letak maknanya. Dan dari musik pula kita menyerap energi (Yeng, Vea, Nemen), energi-energi yang pasti membangkitkan sukacita, yang menuntun pada keteduhan, dan yang memberi ruang tersendiri untuk meluapkan kesedihan. Ketiga energi ini adalah denyut yang membentuk jembatan kehidupan, yang memberi kita kesan dan alasan untuk melangkah dengan penuh makna dan harapan, bahwa setiap hari adalah irama baru yang pantas dirayakan.

Aku teringat jelas peristiwa tahun 2017, saat adikku yang bungsu jatuh sakit. Awalnya hanya malaria biasa, namun penyakit itu perlahan menyerap ke sistem saraf dan berubah menjadi malaria serebral. Komplikasi yang begitu berat, yang merenggut daya geraknya, memorinya, bahkan suaranya. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur rumah sakit, menatap dengan mata yang terbuka tetapi tidak bisa berbicara. Sebuah selang NGT (Nasogastric Tube) terpasang melalui hidungnya, menyalurkan makanan, cairan, dan obat-obatan ke lambung. Kami hanya bisa melihat tubuh mungilnya yang rapuh, sesekali tangannya bergerak pelan, matanya berkedip, bahkan air matanya mengalir tanpa suara. Di balik air mata itu, ada satu hal yang hanya dimengerti oleh jiwa, kami tahu ada kata-kata yang ingin ia ucapkan, ada kerinduan yang tidak bisa disampaikan. Sebagai keluarga yang begitu erat dan saling mencintai, luka itu terasa menembus hati kami.

Suster yang merawatnya datang silih berganti, memberi obat dan memastikan kondisinya. Tetapi ada salah satu hal kecil yang justru terasa begitu berarti: suster itu menyarankan kami untuk sesekali memutar lagu, menaruhnya dekat telinganya. Dengan lembut suster itu berkata: “dengan mendengarkan lagu bisa membantunya mengemabalikan ingatannya yang hilang”. Kami kerap kali memutarkan lagu-lagu rohani, membiarkannya berbisik lembut di dekat telinganya. Meski akhirnya ia tidak bertahan lama persada ini, aku percaya ia sudah menemukan tempat abadi di lautan kaca, tempat tanpa sakit, tanpa lelah, tempat di mana melodi yang indah akan selalu mengalun, di sana ia pasti akan berbicara dan berterus terang. Di saat itulah aku semakin yakin bahwa musik adalah jembatan jiwa dan kehidupan. Ketika kata-kata gagal, ketika tubuh lumpuh, ketika ingatan hilang, musik tetap menemukan tempatnya, jalannya, hidupnya, dan jiwanya. Musik menjadi penghubung antara hati yang ingin bicara dengan jiwa yang mendengarkan, antara keluarga yang penuh cinta dengan harapan yang belum pernah padam. Setiap kali aku mendengar lagu, aku pun selalu kembali disapa oleh kenangan-kenangan, ada kesedihan yang perih, ada kebahagiaan yang lembut, dan ada kehangatan yang membuat hidup terasa utuh. Musik menyatukan semuanya, menjadikannya bagian dari perjalanan yang terus bergetar dalam ingatan dan doa.

Musik bukanlah sekadar hiburan; musik adalah jembatan yang berusaha menyambungkan ingatan yang hilang, mengembangkan jiwa yang terperangkap dalam sunyi. Setiap lagu itu seakan berbicara dalam bahasa yang tidak bisa kita ucapkan, bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh jiwa terdalam. Saat harapan mulai pudar, semangat runtuh, dan hidup terasa kehilangan makna, musik datang perlahan, seperti cahaya yang menembus kabut. Musik menjelma menjadi doa yang tak bersuara, lahir dari getaran-getaran yang mengetuk kedalaman batin. Lebih dari sekadar lantunan nada, musik hadir sebagai pelukan tak kasat mata, memeluk jiwa yang terluka, menenangkan hati yang resah, dan menguatkan mereka yang menanti dengan penuh kerinduan akan harapan.

Musik juga menyingkapkan bahwa kesakitan dan kebahagiaan bukan sebagai sebuah entitas yang harus dipertentangkan. Keduanya bisa menyatu dalam satu komposisi yang lebih luas. Hidup adalah sebuah simfoni, di mana setiap bagian, baik yang terang maupun yang kelam mempunyai tempatnya masing-masing. Tanpa kesedihan, kita takkan mengerti arti kebahagiaan; tanpa hening, kita tidak akan pernah tahu betapa berharganya suara. Musik adalah cermin kehidupan itu sendiri. Karena musik lahir dari keheningan, tumbuh menjadi getaran, berkembang dalam harmoni, lalu kembali lagi kepada hening. Sama seperti manusia yang lahir, berjalan dalam kehidupan, lalu pulang kepada Sang Sumber. Setiap irama selalu mengingatkan kita: hidup bukan sekadar tentang bertahan, tetapi tentang merayakan keberadaan dengan segala pahit dan manisnya, dengan segala sunyi dan gemanya.

Dalam kamar perawatan itu, kami belajar bahwa musik bukan hanya hiburan, melainkan bahasa kehidupan yang paling murni. Musik mengalir melampaui batas tubuh, menembus ruang hening, dan menyatukan yang terpisah. Musik mengajarkan kami bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang, mungkin ia hanya tersembunyi di balik kesunyian. Selama masih ada nada, masih ada kehidupan yang bergetar. Pada akhirnya, musik menunjukkan bahwa hidup, betapa rapuh sekalipun, tetap bisa dirayakan. Musik adalah pengingat bahwa di balik kesunyian selalu ada irama, di balik air mata selalu ada melodi, dan di balik penderitaan selalu ada cinta yang ingin selalu mengalir. Musik adalah jembatan jiwa dan kehidupan, sebuah pengikat yang meneguhkan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Agama Tidak Relevan Bagi Manusia

Luka Tak Lahir dari Huruf

Menulis Untuk Pertama Kali