Filsafat Untuk Hidup, Bernalar dan Bersadar
Hidup bukan sekedar hitungan waktu yang terus
bergulir dari pagi ke senja, dari senja ke malam. Ia adalah perjalanan yang
memerlukan arah, penjelasan, dan makna. Kita bernapas setiap hari, tetapi tidak
pernah selalu sadar akan arti dari setiap helaan itu. Kita menggunakan akal
untuk memecahkan masalah, tetapi tidak selalu menanyakan mengapa kita
memecahkannya. Kita merasa sadar akan diri, tetapi tak jarang terjebak dalam
kesadaran palsu yang dibentuk oleh kebiasaan dan kepercayaan tanpa telaah. Di
sinilah filsafat hadir, bukan sekadar pelajaran yang dikurung di ruang kuliah
atau buku tebal berdebu, melainkan sebagai napas yang menyejukkan jiwa, nalar
yang menajamkan pikiran, dan kesadaran yang membebaskan manusia dari sekadar
hidup otomatis. Filsafat mengajak kita untuk bertanya, bahkan pada hal-hal yang
dianggap terlalu simpel untuk dipertanyakan, dan terlalu rumit untuk dijawab.
Filsafat, pada akhirnya, bukan hanya tentang “tahu”, melainkan tentang “menjadi”. Menjadi manusia yang hidup
dengan sadar, berpikir dengan jernih, dan menghirup kehidupan dengan penuh arti.
Bagi sebagian orang diluar ruang dan waktu kita, tidak tertarik dengan filsafat
mereka acuh tak acuh, tidak menggubris ajakan untuk mengubah dunia lewat
pemikiran dan perbuatan. Mungkin juga mereka berspekulasi seperti itu karena
menganggap tidak ada faedahnya belajar filsafat karena ingin hidup ikut arus,
ingin mengikuti kebiasaan lingkungan sosial, karena mereka ingin ditipu,
berhasrat diadu domba satu sama lain oleh kepentingan dan kekuasaan, mereka
senang berpikir kacau balau, tanpa hubungan logis yang jelas, dan mereka ingin menikmati
hidup dalam irasional. Artinya, mereka sudah tidak perlu belajar dan filsafat
tidak relevan bagi mereka, karena tidak perlu memahami rantai sebab akibat yang
membentuk kehidupannya. Hal ini berarti juga bahwa mereka hidup dalam kebodohan
dan kedunguan. Mereka melempar kesalahan ke orang lain atau justru kepada
Tuhan, dan mereka lupa berkaca untuk melihat ke dalam dirinya sendiri.
Semakin banyak orang yang meyakini bahwa filsafat
tidak perlu lagi untuk dipelajari, seolah menganggapnya tidak memiliki
relevansi dengan kehidupannya sehari-hari. Tanpa disadari, mereka justru
terpenjara dalam jeruji kebodohan, kedunguan, bias algoritma, dan jebakan logical fallacy. Akibatnya, persoalan
dan dinamika kehidupan yang mereka hadapi bukan berkurang, melainkan kian
bertambah banyak, bahkan melahirkan beragam kompleksitas masalah baru yang tak
terduga dan tak diundang. Bagi manusia dengan pola pikir model ini, filsafat
tampak tak memiliki arti dan tidak diperlukan, bahkan tidak berarti sama
sekali. Padahal, justru ketiadaan filsafat dalam hidup merekalah yang
membuatnya terjebak dalam lingkaran masalah tanpa akhir.
Bagi mereka yang sering kali merasa
kehidupannya penuh kerumitan, diliputi kehilangan, kekecewaan, sakit, kesedihan,
penderitaan, nista dan nestapa. Pertanyaan tentang makna eksistensi sering kali
tak terhindarkan. Mereka selalu ingin mendapatkan jawaban dengan mengajukan
pertanyaan tentang “Apa tujuan hidup
ini?” atau “Mengapa aku ada di
dunia?” atau “Mengapa hidup penuh
dengan pertanyaan dan persoalan?”. Agama tentu saja, memberikan jawabannya.
Namun, apakah jawaban itu selalu memuaskan dahaga batin setiap orang? Jika Anda
tidak puas, agama atau tradisi yang Anda anut tidak sepenuhnya meredakan
kegelisahan yang Anda alami dan hadapi, maka mempelajari filsafat menjadi
langkah yang patut untuk dilakukan. Setidaknya, dengan mempelajari filsafat membekali
kita dengan alat untuk tidak sekadar menerima jawaban, tetapi benar-benar
menguji dan memaknainya. Filsafat tidak menjanjikan jawaban yang instan, tetapi
filsafat menawarkan metode, cara berpikir yang lebih jernih, terukur dan
terarah untuk memahami, menimbang, dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental
dan radikal.
Namun, filsafat yang hanya menekankan
pemikiran belaka juga berbahaya. Kita akhirnya tidak bisa membedakan, mana
kenyataan yang sebenarnya dan mana yang merupakan ciptaan dari pikiran kita. Kita
sibuk dengan konsep, dan lupa kembali ke kenyataan yang sejatinya tanpa nama
dan tanpa konsep. Jika ini terjadi, kita hidup dalam penderitaan, dan akhirnya
membuat orang lain juga menderita. Oleh karena itu, kita perlu belajar jalan
pembebasan, seperti dalam filsafat Zen yaitu filsafat yang lahir dari Buddhisme
Mahayana pada abad ke-11 adalah sebuah aliran pemikiran yang menekankan pada
pengalaman langsung dan intuisi untuk mencapai pencerahan. Sebab filsafat
membebaskan kita dari beragam konsep yang mengepung kepala kita dan mengajak
kita melihat kenyataan apa adanya, sebelum kenyataan tersebut dibungkus oleh
konsep, penilaian dan analisis yang dibuat pikiran kita. Akan tetapi, jika kita
senang hidup dalam ilusi yang berbuah penderitaan, filsafat sebaiknya tidak
harus berguna dan juga tidak usah diperlukan.
Socrates pernah berkata bahwa, “the unexamined life is not worth living”,
artinya “hidup yang tak dikaji adalah hidup yang tak pantas untuk dijalani”.
Bagi Socrates dan para filsuf Yunani kuno pada umumnya, berpikir bahwa hidup bukan
sekedar ‘berlangsung’, melainkan sebuah proses pencarian makna terdalam dari
eksistensi manusia dan alam semesta. Filsafat pada hakikatnya adalah upaya
untuk memahami makna esksistensi manusia dan apa arti segala sesuatu yang
terjadi dan ada di jagat raya. Filsafat dimulai dengan pertanyaan. Dengan
mempertanyakan sesuatu, filsafat berusaha meretas jalan-jalan baru menuju
pencapaian kehidupan yang bermakna. Sering kali orang beranggapan bahwa tugas
utama filsafat adalah memberikan jawaban-jawaban yang pasti dan akurat atas
beragam pertanyaan. Namun, Socrates justru berkata bahwa menjawab pertanyaan-pertanyaan
kita bukan tugas filsafat, melainkan tugas filsafat adalah mempertanyakan
jawaban-jawaban kita. Meskipun ada perbedaan perspektif mengenai peran
filsafat, baik bagi mereka yang memberi jawaban maupun yang mempertanyakan
jawaban, namun keduanya konstan berakar pada hakikat yang sama: mencari atau
mencintai hikmat, kebijaksanaan dan atau pengetahuan. Itulah sesungguhnya makna
sejati dari Filsafat.
Sedari awal, manusia menyadari
bahwa tugas utamanya sebagai pencinta atau pencari kebijaksanaan, yaitu “seni
bagaimana orang dapat mengembangkan hidupnya secara sempurna”. Plato (427-347)
menyebut filsafat adalah kebijaksanaan (sofia)
yang berbeda dengan ilmu pengetahuan (episteme).
Sementara gurunya, Socrates menganggap bahwa filsafat sebagai “kebijaksanaan”. Socrates
menegaskan bahwa, filsafat adalah the
love of wisdom (cinta akan kebijaksanaan). Gagasan tentang filsafat sebagai
kebijaksanaan sejatinya tidak hanya ditemukan di Yunani, melainkan juga tumbuh
subur di Timur. Bagi orang India, filsafat tidak melulu pengetahuan, tetapi
juga “jalan” mencapai keselamatan. Sedangkan bagi orang Yalle di Pegunungan
Timur Papua, filsafat tidak hanya tentang memahami realitas masa kini,
melainkan juga sebagai “penantian dan penataan” kehidupan yang lebih baik di
masa depan.
Mengapa Berfilsafat? Aristoteles
menandaskan bahwa manusia harus berfilsafat. Bagi banyak orang, filsafat adalah
kegiatan yang tidak terhindari. Setiap manusia memandang dunia dari perspektif
terntu, membentuk orientasi hidup yang sadar atau tidak terorganisir dalam
suatu pola. Ketika memikirkan makhluk manusia, setiap individu mengarahkan
perhatian dan membangun sikap hidup berdasarkan kesadaran maupun
prinsip-prinsip tertentu. Dengan kata lain, pada hakekatnya setiap manusia
sesungguhnya sudah menyatu atau berfilsafat, meskipun tanpa nama atau bentuk
yang formal. Melalui studi filsafat yang sistematis, manusia didorong untuk
berfilsafat dengan metode yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Di
sana, manusia ditantang untuk berpikir lebih intensional, fundamental, saksama,
dan holistik. Dengan demikian, filsafat bukan hanya menajamkan akal, tetapi
juga menolong setiap orang untuk mampu berkembang menjadi pribadi yang lebih
utuh dan sempurna.
Ada alasan mengapa manusia perlu
berfilsafat? Rafael Raga Maran dalam
bukunya Manusia dan Kebudayaan dalam
Perspektif Ilmu Budaya Dasar mengemukakan setidaknya terdapat empat alasan di
antaranya sebagai berikut:
1)
Kita perlu berfilsafat secara
metodis, sistematis, dan koheren karena hanya dengan cara itulah kita bisa
menjadi manusia seutuhnya, yakni manusia yang matang secara intelektual
sekaligus seimbang dalam kepribadian.
2)
Filsafat menolong kita untuk
mengklarifikasi beragam isu, serta mengambil keputusan dengan cara yang dapat
dipertanggungjawabkan. Semua itu menuntut kejernihan ide serta pengetahuan yang
memadai mengenai realitas yang kita hadapi.
3)
Filsafat erat kaitannya dengan
pengembangan kepribadian. Filsafat membuka jalan yang menarik maupun yang
menyenangkan untuk kita tempuh, sekaligus memantapkan eksistensi kita. Filsafat
bersifat inspirasional, membuka berbagai kemungkinan baru dan menghadirkan
pengalaman hidup yang lebih kaya.
4)
Filsafat memiliki manfaat praktis
yang nyata, terutama bagi mereka yang sungguh-sungguh menekuni dunia
pengetahuan. Ia meretas jalan bagi terciptanya sistem pendidikan yang bebas,
sekaligus menjadi penggerak utama berbagai kegiatan akademik.
Hampir semua disiplin ilmu
pengetahuan, teologi, teknologi, seni, matematika, sejarah, pendidikan, dan
musik, semuanya bertumpu pada asumsi-asumsi tentang realitas, nilai dan metode
yang tepat. Dengan demikian, berfilsafat bukanlah kegiatan yang sia-sia,
melainkan kebutuhan mendasar agar manusia dapat berpikir jernih, hidup lebih
dewasa, dan berkarya secara bermakna.
Terlepas dari satire filsafat di
atas, tajuk “Filsafat Untuk Hidup,
Bernalar dan Bersadar” terdengar seperti kalimat aforisme agar penulisan
dan pemahaman terasa lebih filosofis. Adalah sebuah percikan pikiran yang lahir
dari persentuhan, pengamatan dan perasaan dengan realitas kehidupan manusia dan
alam semesta. Sebuah pemikiran akbar yang lahir untuk memahami, apa, siapa,
kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana “sebenarnya”.
Melalui pertanyaan-pertanyaan yang terngiang-ngiang di kepala percikan pikiran
ini lahir dari dorongan batin dan jiwa untuk mencapai pencerahan, baik bagi
diri maupun bagi semua makhluk hidup.
Filsafat untuk hidup dalam
pengertian paling sederhana, adalah keberadaan kita di dunia ini. Tapi filsafat
memaksa kita untuk melampaui definisi itu. Filsafat bertanya: “apa artinya hidup?” Pertanyaan ini
menggelisahkan manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Hidup selalu menuntut
manusia untuk menemukan makna. Bahkan di tengah penderitaan, manusia masih bisa
memilih sikap. Filsafat menolong kita menyadari bahwa hidup bukan hanya urusan
bertahan hidup, melainkan bagaimana kita mengisinya. Meskipun, seringkali hidup
kita berjalan seperti mesin otomatis. Kita bangun, bekerja, makan, tidur, lalu
mengulangnya lagi. Dalam pola hidup seperti ini, kita kerap kehilangan rasa
hadir. Akan tetapi, filsafat mengajak kita untuk menghirup setiap momen dengan
kesadaran penuh. Saat kita berjalan, kita benar-benar berjalan. Saat kita
berbicara, kita benar-benar berbicara, kita sungguh mendengarkan lawan bicara.
Filsafat menjadi obat bagi kehidupan kehampaan karena ia menantang kita untuk
menemukan “mengapa” di balik setiap “apa” yang kita lakukan. Ia tidak tidak
menjanjikan jawaban instan, tetapi memberikan keberanian untuk terus mencari
jawaban.
Bernalar adalah salah satu tanda
tertinggi kemanusiaan. Manusia disebut “Homo
Sapiens” (makhluk yang bijak) karena memiliki kemampuan berpikir yang
melampaui insting biologis. Namun, kemampuan bernalar bukan sesuatu yang otomatis
berjalan baik; ia perlu dilatih dan diarahkan. Filsafat memberikan kita alat
berpikir dan mengajarkan logika sehingga kita dapat membedakan antara argumen
yang sahih dan yang menyesatkan. Aristoteles dalam bukunya “Retorika” menyebut logika sebagai instrumen bagi semua ilmu.
Tanpanya, kita mudah sekali terperangkap dalam kesesatan berpikir (logical fallacy), percaya pada
kebohongan, atau terseret emosi buta. Oleh karena itu, filsafat mengajarkan
kita berpikir kritis, menguji setiap klaim, mempertimbangkan sudut pandang yang
berbeda, dan mengakui ketika kita salah. Bernalar bukan berarti selalu benar,
tetapi selalu siap untuk mencari kebenaran. Bernalar adalah bentuk tanggung
jawab moral. Ketika kita berpikir, kita sedang mempengaruhi cara kita bertindak.
Dan cara kita bertindak akan mempengaruhi orang lain.
Kesadaran adalah inti dari hakikat
eksistensi manusia. Kita tidak hanya “ada”,
tetapi juga “mengetahui” bahwa kita
ada. Namun, filsafat membedakan antara kesadaran biasa dan kesadaran reflektif.
Kesadaran biasa adalah sekadar menjalani pengalaman tanpa merenungkannya.
Sedangkan kesadaran reflektif adalah ketika kita memikirkan makna dari
pengalaman itu. Filsafat membantu kita mengembangkan kesadaran reflektif. Ia
mengajak kita melihat diri kita dari kejauhan, seperti menatap cermin yang
memantulkan bukan hanya wajah, tetapi seluruh tubuh kita. Kesadaran juga
berarti memahami keterhubungan kita dengan orang lain dan alam. Sadar berarti
bebas. Kita tidak lagi dikendalikan sepenuhnya oleh reaksi implusif, atau
tekanan sosial. Kita memilih dengan penuh kesadaran, dan karenanya bertanggung
jawab atas pilihan itu.
Filsafat sebagai jalan hidup ketika
nafas, nalar, dan kesadaran menyatu filsafat tidak lagi menjadi teori di buku,
melainkan praktik hidup sehari-hari. Kita mulai memahami bahwa filsafat bukan kegiatan
terpisah dari hidup, tetapi nafas yang menghidupi setiap langkah kita. Dalam
pekerjaan, filsafat membantu kita melihat tujuan di balik tugas. Dalam
keluarga, ia mengajarkan kita berkomunikasi dengan empati dan logika. Dalam
masyarakat, ia membentuk kita menjadi warga yang kritis namun adil. Di tengah
kemajuan teknologi yang mengasingkan manusia dari dirinya sendiri filsafat
menjadi jangkar yang tetap menjaga kita tetap manusiawi. Filsafat memberi ruang
hening di tengah kebisingan notifikasi, ruang merenung di antara hiruk-pikuk
aktivitas. Dengan filsafat, kita belajar menerima bahwa tidak semua pertanyaan
memiliki jawaban cepat, dan bahwa pencarian itu sendiri adalah bagian dari
jawaban.
Dalam sebuah karyanya yang brilian Sejarah Filsafat Dunia Timur dan Barat,
William Turner menghadirkan sebuah penegasan yang menggugah bahwasanya filsafat
tidak pernah mati. la hanya berubah wujud – berjalan di samping kita, dalam bentuk pertanyaan yang
terus menggema. Filsafat Timur mengajarkan kita untuk diam demi memahami.
Filsafat Barat mendorong kita bertanya demi melawan. Dua jalan yang berbeda, tetapi
sama-sama menolak hidup yang dangkal. Sejarah filsafat bukan hanya sekadar
lintasan ide, melainkan jejak perjalanan jiwa manusia yang tak pernah puas
dengan jawaban mudah.
Filsafat adalah nafas yang
menghidupkan tubuh, nalar yang menerangi pikiran, dan kesadaran yang
membebaskan jiwa. Filsafat bukan barang mewah yang hanya milik profesor atau
kaum terpelajar, tetapi kebutuhan setiap manusia yang ingin hidup sepenuhnya.
Bernapas tanpa filsafat membuat kita hidup tanpa rasa. Bernalar tanpa filsafat
membuat kita pintar tetapi dangkal. Bersadar tanpa filsafat membuat kita
terjaga tetapi kehilangan arah. Kendatipun demikian, jadikanlah filsafat
sebagai sahabat dalam hidup. Bukan untuk menghafal semua nama filsuf atau
menguasai semua aliran, tetapi untuk menjadikannya panduan bernafas dengan
sadar, berpikir dengan jernih, dan hidup dengan makna. “Hidup tanpa filsafat ibarat bernapas tanpa menghirup udara, berpikir
tanpa arah, dan berjalan tanpa sadar kemana kaki melangkah”.
Komentar
Posting Komentar