Menangis Melihat Tulisanku
Hal yang mereka tidak tahu dan tidak pernah sadar adalah bahwa aku menangis karena melihat tulisanku sendiri. Goresan kata-kata yang aku tulis bukan sekadar rangkaian huruf. Itu adalah potongan-potongan diriku, yang mewakili segenap jiwaku yang hancur, maupun yang masih utuh. Hatiku yang kadang retak, tapi juga sering dipenuhi tawa. Tubuhku yang sering sakit, namun tetap memaksakan diri untuk selalu bahagia. Pikiran yang terlihat tenang dari luar, padahal diam-diam lelah berperang sendirian dalam diam. Tulisanku adalah napas yang keluar dari pergumulan paling dalam. Ia adalah tempat di mana rasa bisa berkata, tanpa perlu dihakimi, tanpa perlu dijawab.
Lebih dari itu, tulisanku adalah cermin pencerahan dari kehidupanku sendiri. Kehidupan yang kadang menyenangkan, bahkan kadang menjengkelkan, dan yang kadang kala melelahkan. Tetapi tetap kupaksa untuk kunikmati, karena aku tahu kalau bukan aku yang belajar mencintainya, siapa lagi? Aku menulis bukan karena aku hebat. Tapi karena aku ingin tetap waras, tetap sadar, tetap hidup. Di dunia yang sering terasa terlalu ramai tapi juga terlalu sepi.
Ketika kata-kataku menjadi cermin jiwa, kalimat-kalimatku menjadi kompas penemuan diri, paragraf-paragrafku menjadi spirit untuk tetap sabar, kuatkan diri dan bangkit kembali, disaat itulah aku merasakan bahwa tulisanku bukan hanya untuk dibaca dan direnungkan, tapi untuk menyelamatkanku, memotivasiku dan menginspirasiku dari karya tulisanku sendiri. Benar-benar aku sendiri yang buat, aku sendiri yang alami dan aku sendiri pula yang selalu rasakan setiap kali aku melihat tulisanku. Karena dunia tidak pernah peduli denganku, banyak yang melihat, tapi pura-pura buta. Banyak yang mendengar tapi pura-pura tuli. Namun aku sendiri yang berusaha menemukan diriku sendiri dalam tulisanku, untuk membuka luka dan merawat harapan. Aku menulis, lalu kembali membacanya lagi. Bukan untuk orang lain. Tetapi untuk menghibur diriku dan mengoreksi diriku.
Setiap kata yang aku tulis seperti mengalir dari tempat terdalam, bukan dari kepala, melainkan dari hati, dari ingatan, dari harapan, dari rasa penasaran, dan perasaan yang telah lama diam. Terkadang aku tidak tahu bahwa aku sedang membuka pintu ke ruang-ruang yang sengaja kukunci rapat. Tapi ketika kalimat-kalimat itu jadi satu kesatuan, aku menangis. Bukan karena tulisanku indah, tetapi karena tulisanku jujur. Ada luka yang tersembunyi dalam titik, dan ada harapan yang tumbuh diantara spasi.
Aku menangis karena aku akhirnya melihat diriku sendiri. Versi yang lelah, yang diam-diam berdoa, yang memendam kecewa, pura-pura bahagia, berusaha menutup luka, ingin bersukacita dan yang tetap bertahan. Tulisanku bukan hanya cermin, tetapi juga pelukan untuk berdamai dengan masa lalu, memahami diriku, dan memaafkan hidup. Menangis bukan berarti lemah. Menangis di depan tulisanku adalah bentuk penghormatan terhadap perjalanan batin yang pernah kulalui, dan pengakuan bahwa aku masih terus tumbuh dengan tinta dan air mata.
Tulisanku menjadi tempatku menemukan diriku sendiri. Saat aku kembali membuka catatan harianku, aku tersenyum tersipu malu melihat setiap tulisanku yang penuh coretan, kadang salah tulis atau salah ketik, tak jarang kurang huruf, bahasa yang tidak sempurna. Aku merasa diriku belum sempurna dan belum bisa menerima kenyataan, tapi bukan untuk lari dari kenyataan. Aku tak sedang mengejar kesempurnaan, karena aku tahu kesempurnaan bukan milikku, bukan juga milik insan mana pun. Aku hanya ingin terus mencoba, dan memberikan yang terbaik, terutama untuk diriku sendiri. Aku sedang membaca diriku yang rapuh, namun jujur, karena di situlah aku merasa pulih perlahan. Seiring dengan kata-kata motivasiku yang kutulis dengan rapih, hadir menginspirasi dan memberikan dorongan, semangat dan energi untuk terus melanjutkan perjalanan hidup.
Bukan kata-kata dalam tulisanku yang terlalu kuat, tapi karena aku tahu siapa yang menulisnya, kalau bukan aku sendiri. Setiap kali melihat dan membaca, aku seperti menjumpai diriku sendiri, memeluknya erat-erta dan berkata: "Terimakasih karena kau tetap hidup dan bertahan". Dan mungkin itulah, alasan sejatinya kenapa aku tetap menulis dan sesekali akan melihat dan membacanya, karena di dalamnya, aku menemukan harapan dan kebahagiaan, bahkan ketika dunia seolah kehabisan tempat untukku.
Dengan melihat dan membaca tulisanku sendiri, aku sedang belajar membedakan: mana yang harus dibuang, mana yang masih bisa diperbaiki, dan mana yang mesti dipertahankan. Melihat dan membaca bagiku, bukan hanya sebuah cara untuk berbicara kepada dunia. Tetapi juga cara untuk menyapa diriku sendiri "say hello" yang masih bertahan, yang masih berharap, yang masi menanti, dan yang masih bisa menangis saat melihat tulisanku sendiri. Terima kasih sudah membaca tulisanku yang begitu jujur, dalam, dan menyentuh. Kata-kata seperti ini datang dari ruang yang sangat pribadi dan privat yang menjadikannya berharga dan berarti.

Komentar
Posting Komentar